GANGGUAN HEPATIK

 

Hepatitis Virus

Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus yang disertai nekrosis & inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis, biokimia,serta seluler yang khas.

Sampai saat ini sudah terindentifikasi 5 tipe Hepatitis virus yang pasti yaitu hepatitis A, B, C, D, E. Hepatitis A & E mempunyai cara penularan yang serupa ( jalur fecal- oral ) sedangkan Hepatitis B, C, D melakukan banyak karakteristik yang sama.

Hepatitis A yang dahulu dinamakan hepatitis infeksiosa, disebabkan oleh virus RNA dari famili enterovirus.cara penularan penyakit ini adalah melalui jalaur fecal-oral,terutama lewat konsumsi makanan/minuman yang tercer virus tersebut.

Virus Hepatitis A ditemukan dalam tinja yang terinfeksi sebelum gejalanya muncul dan selama beberapa hari pertama menderita sakit.

Secara khas seorang pada orang dewasa muda akan terjangkit di sekolah & membawanya kerumah dimana kebiasaan sanaitasi yang negatif(-) menyebarkan keseluruh anggota keluarganya.Dan masyarakat dapat terjangkit melalui konsumsi air/ikan dari sungai yang tercemar linbah. Kadang-kadang penyakit liar ditularkan melalui transfusi darah.

Masa inkubasi Hepatitis A berkisar 1-7 minggu dengan rata2 30 hari. Perjalan penyakit ini dapat berlangsung lama dari 4-8 minggu. Vitus hepatitis A terdapat dalam waktu singkat didalam serum ; pada saat timbul ikterus kemungkinan perubaha sudah tidak terinfeksi lagi.

Pengkajian dan Manifestasi klinik :

Banyak perubahan tidak tampak ikterik ( memperlihat gekala ikterus) dan tanpa gejala. Ketika gejalanya muncul, bentuknya berupa infeksi saluran napas atas yang beragam seperti flu dengan panas yang tidak begitu meningkat. Anorexia merupakan gejala dini dan biasany berat.gejala ini dipekirakan terjadi akibat pelepasan toxin oleh hati yang rusak atau akibat kegaglan sel hati yang rusak tersebut untuk melakukan detoksifikasi produk yang abnormal belakangan dapat timbul ikterus dan urin yang berwarna gelap.

Gejala dispepsia dapat terjadi dalam berbagai derajat yang ditandai oleh rasa nyeri epigastrum,mual, nyeri ulu hati dan flatuleusi.

Penatalaksanaan

Tirah baring selama stadium akut dan diet yang akseptabel serta bergizi merupakan bagian dari pengobatan dan Askep. Selama periode Anorexia perubahan harus makin sedikit demi sedikit tapi sering dan jika diperlukan disertai infus glukosa. Karena perubahan sering menolak makan, kreatifitas dan bujukan yang persisten namun dilakukan dengan halus mungkin diperlukan untruk merangsang selera makan perubahan jumlah makan dan cairan yang optimal diperlukan untuk menghadapi penurunan BB dan kesembuhan yang lambat.

Ambolasi bertahap namun progresif akan mempercepat pemulihan bila perubahan beristirahat sesudah melakukan aktifitas dan tidak turut serta dalam aktifitas yang menimbulkan kelelahan.

Prognosis

Penderita hepatitis A biasanya akan pulih kembali, Hepatitis A jarang berlanjut menjadi nekrosis hati yang akut atau Hepatitis fulminan dan berakhir dengan sirosis hati atau kematian. Hepatitis akan menimbulkan imunitas terhadapa penyakit itu sendiri, namun demikian orang yang kebal terhadap Hepatitis A dapat terjangkit banyak hepatitis yang lain status karir tidak terdapat, dan juga tidak ditemukan hepatitis kronis yang berkaitan dengan Hepatitis A.

Penyuluhan pasien

Pasien Hepatitis A dapat dirawat dirumah jika gejalanya tidak berat. Kemudian itu pasien dan keluarganya perlu dibantu untuk mengatasi ketidakmampuan dan kelelahan sementara yang sering dijumpai pada hepatitis,mereka juga perlu mengetahui indikasi untuk mendapatkan pertolongan medis jika gejalanya menetap atau semakin parah. Disamping itu pasien dan keluarga memerlukan pedoman khusus tentang diet ,istirahat, pemeriksaan darah lanjutan dan pentingnya upaya menghindari alkohol selain tindakan sanitasi serta hygiene , khususnya kebiasaan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran penyakit itu kepada anggota keluarga yang lain . penyuluhan khusus diantaranya:

Hygiene perseorangan yang baik dengan menekankan kebiasaan mencuci tangan dengan cermat ( sesudah BAB dan sebelum makan )

Sanitasi lingkungan, makan dan suplaian yang aman disamping pembuangan limbah yang baik.

Pencegahan

Vaksin hepatitis A

Direkomendasikan organ vaksin dengan 2 kali pemberian, ini diberikan pada orang dewasa usia 18 tahun atau lebih dengan pemberian dosis ke 2, 6-12 bulan. Sesudah dosis pertama proleksi terhadap hepatitis A akan timbul dalam tempo beberapa minggu sesudah pemberian vaksin dosis pertama. Anak –anak dan remaja usia 2-18 tahun akan menerima 3x pemberian dengan dosis ke 2, 1 bulan sesudah dosis pertama dan dosis ke 3, 6-12 bulan kemudian . Diperkirakan bahwa proteksi terhadap hepatitis A dapat berlangsung selama sedikitnya 20 tahun.

Pemberian preparat imun globulin.

Hepatitis A dapat dicegah pada orang-orang yang sebelumnya sudah mendapat vaksinasi pada pemberian preparat globulin intramuskuler selama masa inkubasi jika tindakan ini dilaksanakan demi waktu 2 minggu setelah terjadi kontak.

Pemberian preparat globulin akan meningkatkan produksi antibodi sendiri dan dan memberikan imunitas pasif selama 6-8 minggu. Imun globulin dapat menekan gejala nyata penyakit tersebut, kasus subklinis hepatitis A yang terjadi akan memberikan imunitas aktif terhadap serangan virus berikutnya Profilaksin Prapajanan

Dianjurkan untuk mereka yang bepergian ke negara-negara berkembang dengan lingkungan yang sanitasnya burukImun globulinDirekam bagian anggota tentang suami dan istri penderta hepatitis A.

Virus hepatitis B

Komponen Virus hepatitis B ( HBV ) merupakan virus DNA yang tesusun dari partikel antigen berikut ini:

HbcAg—Antigen ini ( core ) hepatitis B ( material Antigen terdapat di inti sebelah dalam/inner core )

HbsAg—Antigen permukaan ( surface ) hepatitis B ( material antigen pad permukaan HBV )

HbeAg—Protein independen yang beredar dalam darah

HbxAg—Produk genetik dari gen x pada HBV/ DNA.

Setiap antigen menimbulkan antibodi spesifiknya :

Anti HBc—antibodi terhadap antigen inti atau HBV: anti HBc akan bertahan sealam fase akut< dapat menunjukkan virus hepatitis B yang berlanjut dalam hati.

Anti-HBs—antibodi terhadap permukaan tertentu pada HBV, tedeteksi selama fase konvalesensi lanjut, biasanya menunjukkan pemulihan dan pembentukan imunitas.

Anti Hbe—antibodi terhadap antigen e hepatitis B, biasanya menyatakan penurunan infektivitas.

Anti HbxAg—antibodi terhadap antigen x hepatitis B, dapat menunjukkan replikasi HBV yang tengah berlangsung.

HbsAg muncul dalam sirkulasi darah pada 80% hingga 90% pasien yang terinfeksi 1 hingga 10 minggu setelah kontak dengan HBV dan 2 hingga 8 minggu sebelum munculnya gejala atau meningkatnya kadar transferase ( transaminase ). Orang-orang dengan HbsAg Yang bertahan selama 6 bulan atau lebih sesudah mengalami infeksi akut dinyatakan sebagai karier HbsAg.

HbeAg merupakan antigen HBV yang muncul berikutnya dalam serum. Biasanya antigen ini timbul dalam waktu satu minggu setelah munculnya HbsAg dan sebelum terjadinya perubahan kadar aminotransferase untuk kemudian menghilang dari serum dala waktu 2 minggu. DNA HBV, yang terdeteksi lewat pemeriksaan reaksi rantai polimerase ( PCR : Polymerase chain reaction ) muncul dalam serum pada saat yang kurang –lebih sama seperti HbeAg. HbcAg tidak selalu terdeteksi dalam serum pada infeksi HBV.

Sekitar 15% dari orang-orang dewasa di Amerika menunjuikkan hasil pemeriksaan anti-HBs yang positif, yang menunjukkan bahwa mereka menderita hepatitis B. Anti-HBs positif pada dua per tiga dari para pemakai obat bius IV.

Perjalanan Penyakit dan Faktor Risiko

Berbeda dengan hepatitis A yang terutama ditularkan lewat jalur fekal-oral, hepatitis B terutama ditularkan melalui darah ( jalur perkutan dan permusa) Virus tersebut pernah ditemukan dalam darah, saliva semen serta sekret vagina dan dapat ditularakn lewat membran mukosa serta luka pada kulit.

Hepatitis B memiliki mas inkubasi yang panjang .Virus hepatitis B mengadakan replikasi dalam hati dan tetap berada dalam serum selama peride yang relatif lama sehingga memungkinkan penularan virus tesebut. Dengan demikian, individu yang berisiko untuk terkena hepatitis B adalah para fdokter bedah, pekerja laborattorium klinik, dokter gigi, perawat, dan terapis respiratorik. Staf dan pasien dalam unit hemodialisis serata onkologi dan laki-laki biseksual serta honoseksual yang aktif dalam hubungan seksual dan para pemakai obat-obat IV juga beresiko tinggi.

Skrining HbsAg pada donor darah sangat menurunkan insidens hepatitis B pasca-transfusi.

Pengkajian dan manifestasi klinik

Secara klinis, penyakit ini sangat menyerupai hepatitis A: namun, masa inkubasinya jauh lebih lama ( yaitu, antara 1dan 6 bulan ) angka mortalitasnya cukup besar berkisar dari 1% hingga 10%.

Gejala dan tanda –tanda hepatitos B dapat samar dan brvariasi. Panas dan gejala pada pernafasan jarang dijumpai, sebagian pasien mungkin mengeluhkan artralgia dan ruam. Pasien hepatitis B dapat mengalami penurunan selera makan , dispepsia, nyeri abdomen, pegal-pegal yang menyeluruh, tidak enak badan dan lemah. Gejala ikterus dapat terlihat atau kadang-kadang tidak tampak. Apabila terjadi ikteruis, gejala ini akan disertai dengan tinja yang berwarna cerah dan urin yang berwarna gelap. Hati penderita Hepatitis B mungkin terasa nyeri ketika ditekan dan membesar hingga panjangnya mencapai 12 hingga 14 cm. Limpa membesar dan pada sebagian kecil pasien dapat diraba, kelenjar limfe servikal posterior juga dapat membesar. Pertimbangan Gerontologi.

Pasien yang berusia lanjut dan terkena hepatitis B akan berisiko untuk terjadinya nekrosis sel hati yang berat atau kegagaln hati fulmianan, khususnya bila pasien tersebut menderita sakit yang lain . Pasien akan mengalami sakit yang serius dan prognosinya jelek Pasien dengan segala bentuk hepatitis harus di ingatkan untuk menghindari konsumsi minuman alkohol.Pengendalian dan pencegahan.

Tujuan pencegahan adalah

memutuskan rantai penularanmelindungi individu yang beresiko tinggi melalui imunisasi aktif vaksin hepatitisBmunisasi pasif bagi individu yang tidak terlindung namun terpajan virus hepatitisB, pencegahan dan penularan.skrining yang kontinyu akan adanya HbsAG terhadap donor darah akan mengurangi lebih lanjut resiko penularan melalui transfusi darah .penggunaan spuit,jarum suntik serta lanset sekali pakai dan pengenalan sistem pemberian infus tanpa jarum menurunkan resiko penyebaran penyakit tersebut dari pasien lainnya selama pengumpulan sampel darah atau pelaksanaan terapi parenteral.praktik hygien perorangan yang baik merupakan landasan bagi pengendalian infeksi.dalam ruang lab klinik, tempat kerja harus didesinfeksi setiap hari.sarung tangan harus di kenakan ketika menangani semua sampel darah dancairan tubuh selain spesimen HbsAg yang positif atau jika terdapat kemungkinan trekena darah(pengambilan darah) atau sekret pasien hepatits B.larangan makan serta merokok harus di patuhi dalam ruang lab dan pada tempat lain yang terkena sekret darah atau produk darah pasien.

Hepatitis C

Perbandingan kasus hepatitis virus yang signifikasi bukan berati hepatitis A,hepatitisB ataupun hepatits D;sebagai akibatnya,kasus kasus itu diklasifikasikansebagi hepatits C (yang dahulunya disebut hepatits non-A.non-B atau hepatitisNANB) agen lain,yang berbeda dan tidak berhubungan dengan hepatitis C,di perkiraaan sebagai penyebab sebagian kasus ‘hepatitis non-A,non-B’ yang berkaitan dengan transfusi darah.di Amerika Serikat, lebih dari 90 % kasus akibat transfisi darah.dan hepatitis C merupakan bentuk primer hepatitis yang berkaitan dengan transfusi.Orang oranng dengan resiko khusus untuk terkena hepatitis C mencakup anak anak yang sering mendapatkan transfusi atau individu yang memerlukan darah dalam jumlah besar.hepatitis lebih besar kemungkinan untuk di tularkan dari donor komersial atau donor bayaran ketimbang relawan.hepatitis C bukan hanya terjadi pada pasien pasca transfusi dan di antara para pemakai obat-obat IV,tetapi juga pada petugas kesehatan yang bekerja dalam unit unit dialisis renal. Masa inkubasi hepatitis C bervariasi dan dapat berkisar antara 15-160 hari.perjalanan klinis hepatitis C akut serupa dengan hepatitisB,gejala hepatitsC biasanya ringan.meskipun demikian status karier yang kronis sering terjadi dan terdapat peningkatan resiko untuk menderita penyakit hati yang kronis sesudah hepatitis C,termasuk sirosis atau kanker hati.terapi interferon dosis rendah untuk jangka waktu yang lama terbukti efektif dalam sejumlah uji coba pendahuluan pada penderita hepatitis C,walaupun begitu respon tersebut bersufat sementara.kombinasi preparat interferon dengan ribavirin,suatu analog nukleosida, kini tengah di uji untuk menentukan apakah terdapat manfaat yang lebih lama(fried dan hoofnagle,1995).pemeriksaan skrining hepatitisC pada darah yang akan di gunakan untuk transfusi telah mengurangi jumlah kasus hepatitis yang berkaitan dengan transfusi .

Hepatitis D

Hepatitis D(agen atau virus delta) terdapat pada beberapa virus karena virus ini memerlukan antigen permukaan hepatitis B untuk rep-likasinya ,maka phanya penderita hepatitis B yang beresiko terkena hepatitis D.Antibodi anti-delta dengan adanyaHbAg pada pemeriksaan laboratorium memastikan diagnosis tersebut. Hepatitis D juga sering di jumpai diantara para pemakai obat-obat IV, pasien hemodialisis dan penerima tansfusi darah dengan donor multipel.hubungan seksual dengan penderita hepatitis B dianggap sebagai sustu cara penularan hepatitis Bdan D yang penting.masa inkubasi hepatitis bervariasi antara 21-140 hari.

Gejala hepatitis D serupa dengan hepatitis ,kecuali pasien lebih cenderung untuk menderita hepatitis fulminan dan melanjut menjadi hepatitis aktif yang kronis serta sirosis hati. Terapi hepatitisD serupa dengan terapi pada bentuk hepatitis yang lain,meskipun penggunaan interferon yang merupakan obat khusus bagi hepatitis D masih diselidiki.

Hepatitis E

Virus hepatitis E,yang merupakan jenis virus hepatitis terbaru yang teridentifikasi,dianggap ditularkan melalui jalur fekal-oral. Masa inkubasi hepatitisE bervariasi dan diperkirakan berkisar dari 15-65 hari.awitan dan gejalanya serupa dengan yang terdapat pada tipe hepatitis virus yang lain. Menghindari kontak dengan virus melalui higiene perorangan yang baik, termasuk kebiasaan mencuci tangan, merupakan cara utama untuk mencegah hepatitis E . efektivitas preparat imun globulin dalam memberikan perlindungan terhadap virus hepatitisE belum di ketahui.

PATOFISIOLOGI

Meskipun ada beberapa faktor yang terlibat dalam etiologi sirosis, konsumsi minuman beralkohol dianggap sebagai faktor utama .sirosis terjadi dengan frekuensi tinggi pada peminum minuman keras.meskipun defisiensi gizi dengan penurunan asupan protein turut menimbulkan kerusakan hati pada sirosis,namun asupan alkohol yang berlebihan merupakan faktor utama pada perlemakan hati dan konsekuensi yang di timbulkanya.namun demikian sirosis juga pernah terjadi pada individu yang tidak memiliki kebiasaan meminum minuman keras dan pada individu yang dietnya normal tetapi denga konsumsi alkohol yang tinggi.

Sebagian individu tampaknya lebih rentan terhadap penyakit ini dibanding individu lain tanpa di tentukan apakah individu tersebut meminum minuman keras atau menderita malnutrisi.faktor lainya dapatmemainkan peran,termasuk pajanan dengan zat kimia tertentu[karbon tetraklorida,naftalenterklorinasi,arsen atau pospor]atau infeksi skistosomiasis yang menular.jumlah penderita sirosis adalah 2x lebih banyak daripada wanita,dan mayorits pasien sirosis berusia 40-60 tahun.

Sirosis laennec merupakan penyakit yang di tandai oleh episode nekrosis yang melibatkan sel-sel hati dan kadang-kadang berulang di sepanjang perjalanan penyakit tersebut.sel-sel hati yang dihancurkan itusecara berangsur angsur di ganti oleh jaringan parut;akhirnya jumlah jaringan parut melampui jumlah jaringan hati yang masih berfungsi.pulau pulau jaringan normal yang masihtersisa dan jaringan hati hasil regenerasi dapat manonjol dari bagian bagian yang berkontriksi sehingga hati yang sirotik memperlihatkan gambar mirip paku sol sepatu berkepala besar (hobnail appearance) yang khas.sirosis hepatis biasanya memiliki awitan yang insidius dan perjalanan penyakit yang sangat panjang sehingga kadang kadang melewati rentang waktu 30 tahun atau lebih.