Pre Menstrual Syndrome

PMS adalah gangguan karakter oleh karena perubahan hormonal pada wanita selama kurang lebih 2 minggu sebelum keluarnya darah haid, suatu perubahan mood, tingkah laku, dan atau perubahan fisik yang memiliki siklus yang berhubungan dengan siklus menstruasi. Siklus menstruasi mempunyai 2 fase yaitu fase folikular dan fase luteal. Fase folikular dimulai dari hari pertama keluarnya darah haid sampai terjadinya ovulasi ( keluarnya sel telur dari indung telur ) ± 14 hari. Fase luteal dimulai setelah ovulasi sampai keluarnya darah haid. Gejala PMS sering timbul walaupun tidak sepanjang siklus, serta mengalami remisi pada akhir menstruasi dengan interval bebas gejala paling kurang selama 1 minggu pada tiap siklusnya. Penyakit ini sepertinya lebih sering timbul pada wanita usia 30 hingga 40 tahun dan lebih sering menyerang wanita dengan riwayat depresi setelah melahirkan atau penderita gangguan afektif.
PMS dapat berupa keluhan fisik ataupun keluhan mental. Keluhan fisik dapat berupa pembengkakan abdomen, ketegangan pada payudara, fatique, kehilangan energi, mudah letih, kesulitan konsentrasi, haus, perubahan nafsu makan dan edem pada ekstremitas dengan berbagai tingkat keparahan. Keluhan mental yang paling sering dikeluhkan berupa ansietas, merasa tertekan, mudah tersinggung, rasa ingin menangis, depresi dan perubahan mood yang timbul mendadak dan yang paling merisaukan para suami adalah penurunan libido istrinya sehingga mengurangi frekuensi berhubungan sex.
PMS mempengaruhi aspek sosial dan ekonomi penderita serta rekan kerja, keluarga dan teman. Penderita sering melalaikan pekerjaan selama premenstuasi. Wanita-wanita tersebut  menunjukkan kesukaran dalam berkonsentrasi, penurunan minat, pelupa, dan menurunnya kemampuan koordinasi, mengakibatkan menurunnya efisiensi dan produktifitas walaupun penderitanya tetap masuk kerja.
Gejala- gejala ini harus terjadi selama 5 hari sebelum menstruasi dalam 3 kali siklus menstruasi dan harus mnghilang setelah 4 hari menstruasi dan tidak boleh berulang sampai hari ke 13 dari siklus menstruasi. Gejala yang paling diasosiasikan dengan PMS adalah iritabel atau mudah tersinggung.
Untuk didiagnosis menderita PMS, gejala yang dialami ini harus mengganggu kehidupan sosial atau pekerjaan. Sebagai tambahan lagi gejala ini harus terjadi secara konsisten selama 2 siklus menstruasi berikutnya dan tanpa adanya pengobatan dengan medikamentosa, pemberian hormon atau menggunakan obat-obatan dan alkohol
Sampai sekarang penyebab pasti dari PMS belum diketahui. Halbreich dan Monacelli menyatakan bahwa patofisiologi gangguan premenstrual berupa interaksi antara proses pada susunan saraf pusat (SSP), genetik, hormon gonadal dan beberapa modulator lain.
Berhubung gejala PMS sangat bervariasi dan tidak terdapatnya etiologi tunggal penyebab PMS, ada beberapa mekanisme kemungkinan patogenesis PMS yaitu  ketidakseimbangan cairan, ketidakseimbangan nutrisi, perubahan neuroendokrin pada susunan syarar pusat, ketidakseimbangan steroid dan jamur.
Mungkin penjelasanku tidak terlalu penting bagi mereka, aku hanya berharap mereka tidak perlu terlalu cemas, hingga panik dan kehilangan akal sehatnya. yang penting adalah bagaimana mereka dapat memperbaiki kualitas hidupnya, misalnya banyak berolahraga, banyak makan sayur-sayuran, dan menghindari hal-hal yang membuat stress.
Therapi PMS
Therapi PMS yang diterapkan harusnya bersifat individual tergantung tipe dan derajat keparahan gejala dan respon penderita terhadap terapi yang diberikan. Terapi awal PMS adalah pendekatan suportif tanpa penggunaan obat-obatan. Sekitar 30% penderita menunjukkan respon yang baik terhadap terapi ini. Jika penderita tidak menunjukkan respon yang baik baru dipikirkan memberikan regimen obat-obatan untuk mengatasi gejala yang paling mengganggu. Dokter seharusnya dapat meyakinkan penderita bahwa keluhan yang dideritanya ini wajar, dan pengukuran harus dicoba dilakukan agar dapat memperbaiki kualitas hidupnya.
Pencatatan gejala yang timbul perhari dapat membantu penderita menemukan keluhan apa yang paling memberatkannya dan kapan keluhan itu dirasakan paling parah.  Monitor harian ini juga membantu penderita mempertahankan kontrol dalam kehidupannya, mengatasi kesulitan yang terjadi dalan interaksi sosialnya, dan dalam hal pembuatan keputusan besar dalam kehidupannya.
Diet.
Federal Drug Administration (FDA) merekomendasikan diet buah-buahan dan sayuran terbagi dalam 5 porsi untuk pasien dengan PMS untuk mengurangi gejalanya. Penderita dianjurkan mengurangi konsumsi garam untuk mengurangi gejala yang timbul akibat retensi air.
Kafein harus dikurangi untuk menghindari dampak fisik dan emosi yang ditimbulkannya. Makanan lain yang seharusnya dihindari termasuk kopi, coklat, minuman ringan, dan obat-obat tertentu. Konsumsi vitamin B-6 300 hingga 500 mg perhari peroral direkomendasikan bagi penderita PMS.
Olahraga
Penderita dianjurkan untuk melakukan olahraga teratur. Tipe olahraga yang dianjurkan bervariasi dan bersifat personal. Banyak sekali keuntungan yang didapat dari olahraga bagi penderita PMS, diantaranya berkurangnya stress, dan peningkatan rasa percaya diri. Peningkatan â- endorphin yang sementara dapat meningkatan mood penderita.
Olahraga dapat membantu mengurangi gejala PMS karena mengurangi stress dan tekanan darah. Olahraga meningkatkan mood, menyediakan indera yang baik dan meningkatkan sirkulasi darah dengan meningkatkan produksi beta endorphin alami. Direkomendasikan, olahraga paling sedikit 3 x seminggu selama 20-30 menit. Aerobik, jalan, joging, bersepeda dan renang adalah beberapa yang disarankan.
Obat-obatan yang biasa digunakan untuk mengatasi gejala PMS ini antara lain : obat anti nyeri  dan anti cemas. Penderita dengan gejala depresi premenstrual yang berat sebaiknya dirujuk ke ahli psikiatrik untuk pemberian obat anti depressant dan terapi suportif. Biasanya efek terapi baru terlihat dalam waktu 2 hingga 3 minggu pengobatan. Mungkin diperlukan pengawasan efek samping obat anti depressant oleh ahli psikiatrik.

Pre Menstrual Syndrome (PMS) adalah sekumpulan gejala berupa gangguan fisik & mental, dialami 7-10 hari menjelang menstruasi dan menghilang beberapa hari setelah menstruasi. Keluhan yang dialami bisa bervariasi dari bulan ke bulan, bisa menjadi lebih ringan ataupun lebih berat dan berupa gangguan mental (mudah tersinggung, sensitif) maupun gangguan fisik. Diperkirakan kurang lebih 85% wanita usia produktif antara usia 25-35 tahun mengalami satu atau lebih gejala dari PMS. Hanya 2-10% menunjukkan gejala PMS berat (Premenstrual Dysphoric Disoder/PMDD).   Etiologi

Apa yang menyebabkan seorang wanita mengalami PMS belum dapat diketahui secara pasti. Banyak dugaan bahwa PMS terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor yang kompleks dimana salah satunya adalah akibat perubahan hormonal yang terjadi sebelum menstruasi. Terjadi penurunan kadar hormon estrogen setelah ovulasi yang mempengaruhi neurotransmitter di otak terutama serotonin. Serotonin memegang peranan dalam regulasi emosi. Meskipun demikian, diduga interaksi kompleks antara hormon estrogen, progesterone dan serotonin dengan PMS masih perlu diteliti lebih lanjut. Gangguan metabolisme dan pola hidup yang tidak sehat (terutama faktor nutrisi) juga mungkin turut berperan dalam menyebabkan PMS. Diduga terjadi gangguan metabolisme prostaglandin akibat kurangnya gamma linolenic acid (GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur sistem reproduksi (mengatur efek hormon estrogen, progesterone), sistem saraf (mengatur kerja neurotransmitter) dan sebagai anti peradangan. Selain gangguan metabolisme, pola nutrisi yang tidak seimbang berupa diet tinggi lemak, tinggi garam & gula, rendah vitamin & mineral, sedikit serat dapat menimbulkan PMS. Konsumsi kafein (terdapat dalam kopi, teh) serta alkohol yang berlebihan dapat memperberat gejala yang ada.   Gejala klinis

Terdapat kurang lebih 200 gejala yang dihubungkan dengan PMS namun gejala yang paling sering ditemukan adalah iritabilitas (mudah tersinggung) dan disforia (perasaan sedih). Gejala mulai dirasakan 7-10 hari menjelang menstruasi berupa gejala fisik maupun psikis yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menghilang setelah menstruasi.
Gelaja Fisik
-Kelemahan umum (lekas letih, pegal, linu)
-Acne (jerawat)
-Nyeri pada kepala, punggung, perut bagian bawah
-Nyeri pada payudara
-Gangguan saluran cerna misalnya rasa penuh/kembung, konstipasi, diare-Perubahan nafsu makan, sering merasa lapar (food cravings)
Gejala Mental
-Mood menjadi labil (mood swings), iritabilitas (mudah tersinggung), depresi, ansietas
-Gangguan konsentrasi
-Insomnia (sulit tidur)
  Diagnosis

Dalam mendiagnosa PMS, adalah sangat penting untuk menyingkirkan apakah ada penyakit lain yang mendasari timbulnya gejala yang dirasakan. PMS dapat diduga pada wanita yang mengalami gangguan fisik ataupun mental beberapa saat sebelum menstruasi yang berlangsung setiap siklus.
Ada 3 (tiga) elemen penting yang menjadi dasar diagnosa apakah seorang wanita mengalami PMS yaitu jika ditemukan :
Gejala yang sesuai dengan gejala PMS
Dialami setiap siklus menstruasi (konsisten)
Menimbulkan gangguan dalam aktivitas sehari-hari
PMS harus dibedakan dengan perubahan yang biasa dirasakan sebelum menstruasi (simple pre menstrual symptoms) yang tidak menimbulkan gangguan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari misalnya rasa tegang pada payudara. Keadaan ini adalah ciri khas dari siklus ovulasi normal yang terjadi setiap bulan.   Terapi

Sebaiknya seorang wanita yang diduga menderita PMS mencatat keluhan yang dirasakannya dalam sebuah diari yang disebut PMS diary. Dengan adanya catatan tersebut dapat menegakkan diagnosa serta pengobatan. Tujuan dari pengobatan PMS adalah untuk mengurangi bahkan menghilangkan gejala yang ada, mengurangi akibat yang timbul dari PMS dalam aktivitas sehari-hari maupun hubungan interpersonal, serta mengusahakan agar efek samping minimal dari terapi yang diberikan. Adapun terapi yang dapat diberikan dapat berupa terapi farmakologi dengan menggunakan obat-obatan untuk mengatasi rasa nyeri maupun terapi non farmakologi seperti modifikasi pola hidup dan asupan nutrisi yang seimbang.
Farmakologi
Obat-obatan yang biasa digunakan dalam mengobati PMS bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri/ketidaknyamanan yang dirasakan. Golongan obat-obatan yang sering digunakan berasal dari golongan analgetik (parasetamol), anti inflamasi non steroid (ibuprofen, natrium diklofenak, dan lainnya), golongan minor tranquilizer (obat penenang), anti depresi dan kontrasepsi. Pada banyak kasus penggunaan obat analgetik ringan sudah dapat mengatasi gejala yang dialami namun penderita gastritis (maag) sebaiknya berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan yang meringankan rasa nyeri karena dapat mengakibatkan nyeri lambung-obat sebaiknya diminum setelah makan. Jika gejala PMS lebih berat, sebaiknya penderita melakukan konsultasi dengan dokter. Penggunaan obat penenang, anti depresi dan kontrapsepsi hanya berdasarkan resep dokter dan harus di bawah pengawasan dokter yang berwenang.
Non-farmakologi
Terapi non farmakologi memegang peranan penting dalam penanganan PMS berupa edukasi penderita, terapi suportif dan modifikasi gaya hidup. Perubahan pola nutrisi memiliki efek yang bermakna karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dr. Guy Abraham, penambahan nutrisi tertentu disertai perubahan pola makan 1-2 minggu menjelang menstruasi dapat mengurangi gejala PMS. Komposisi nutrisi yang dianjurkan bagi penderita PMS adalah diet rendah lemak dan garam, mengandung protein, vitamin, mineral (vitamin B, vitamin C, vitamin E, Ca, Mg, Zn) yang seimbang, serta dianjurkan untuk mengurangi konsumsi kafein (kopi, teh). Para penderita PMS sebaiknya melakukan olah raga secara teratur serta menghindari stres berkepanjangan. Terapi suportif seperti hipnoterapi, terapi warna, meditasi dan lainnya dapat membantu mengurangi gejala yang dirasakan.
Secara singkat, berikut tips-tips untuk mengurangi gejala PMS :
Terapkan pola nutrisi yang sehat (rendah lemak dan garam, tinggi protein, vitamin dan mineral). Perbanyak porsi buah-buahan, sayur mayur, gandum yang tinggi serat. Jika diperlukan, dapat ditambahkan makanan kesehatan (food supplement) yang berupa multivitamin seperti kalsium yang dapat mengurangi rasa kram, Vitamin E untuk mengurangi rasa nyeri pada payudara, keletihan dan insomnia serta Vitamin B6 untuk mengatasi keletihan, iritabilitas dan mood swings.
Hindari makanan dengan kadar garam tinggi, makanan manis, kafein, alcohol.
Selalu melakukan olahraga rutin.
Tidur cukup minimal 8 jam/hari.
Hindari rokok.
Hindari stress berkepanjangan.
Terapi relaksasi (hipnoterapi, terapi warna, meditasi, aromaterapi dsb).
  Kesimpulan

Gejala fisik dan mental yang terjadi pada PMS bervariasi dari ringan maupun berat. Penyebab PMS diduga melibatkan faktor hormonal, metabolisme serta akibat pola hidup yang tidak sehat terutama faktor nutrisi. Untuk mendiagnosa PMS diperlukan gejala fisik maupun mental yang timbul 7-10 hari sebelum menstruasi dan menghilang setelah menstruasi, sesuai dengan siklus bulanan. Faktor-faktor lain seperti penyakit yang mendasari harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum diagnosa PMS ditegakkan. Terapi PMS berupa farmakologik maupun non farmakologik. Secara farmakologik, dapat digunakan obat-obatan dari golongan analgetik & anti inflamasi non steroid untuk mengatasi gejala yang ringan. Sedangkan obat penenang, anti depresi maupun kontrasepsi digunakan pada kasus yang lebih berat dan harus di bawah pengawasan dokter. Secara non farmakologik, sebaiknya penderita PMS menerapkan prinsip hidup sehat dengan pola nutrisi yang seimbang yaitu rendah lemak, rendah garam & gula, tinggi protein, vitamin dan mineral serta menghindari kafein,alkohol dan rokok. Olah raga teratur dapat membantu mengurangi gejala PMS selain memberikan tubuh yang sehat. Terapi relaksasi seperti hipnoterapi, terapi warna, meditasi dan aromaterapi merupakan satu alternatif yang dapat dicoba untuk mengatasi PMS.

Windows® phone