Ketika Anak Kehilangan Orangtua


Secara umum: kehilangan adalah satu situasi di mana seseorang tidak lagi 'memiliki' sesuatu dalam hidupnya. Dalam pembahasan kita saat ini, anak mengalami kehilangan orang tua, entah papanya atau ibunya atau keduanya.Tentunya 'kehilangan' orang yang dikasihi merupakan bagian menyedihkan dalam perjalanan hidup seseorang. Kehilangan bisa dialami oleh siapa saja. Bencana alam, penyakit, atau kecelakaan lain dapat merenggut orang yang kita kasihi dari sisi kita. "Kehilangan" di sini umumnya kita mengartikannya dengan kematian namun kehilangan juga bisa dalam pengertian psikis. Misalnya: perceraian orangtua, 'kesibukan' orangtua dengan masalahnya sehingga anak terabaikan.

Kita akan coba melihatnya satu persatu:
Kehilangan karena 'kesibukan' orangtua
Kehilangan karena 'kesibukan' orangtua adalah satu kehilangan yang paling umum terjadi saat ini. Di mana orangtua sibuk bekerja mencari uang dengan alasan kasih dan mempersiapkan masa depan anak. Tentunya saja alasan ini sah-sah saja. Tapi sadarkah kita bahwa ketika kita 'sibuk' dengan persoalan kita maka anak-anak kita mengalami satu 'kehilangan' dalam hidup ini.
Kehilangan ini bukan dalam bentuk fisik tetapi lebih banyak dalam bentuk perhatian dan kasih sayang. Mereka bertumbuh besar di bawah asuhan para suster, pembantu, syukur-syukur kalau masih ada opa dan oma yang menolong memperhatikan.
Apa dampaknya bagi anak-anak ketika mereka 'kehilangan' orangtua dalam persoalan ini? Umumnya anak akan mencari perhatian dari orangtua dan mereka akan melakukan berbagai cara. Ada tindakan yang positif, ada juga tindakan yang negatif. Ada anak yang mencari perhatian dengan belajar mati-matian agar memperoleh hasil studi yang sangat bagus (berprestasi). Tapi ada juga anak yang kemudian melakukan "hal-hal aneh" atau kenakalan-kenakalan agar orangtuanya melihat dan memperhatikan mereka.
Apa yang harus dilakukan? Tentunya berusaha membatasi 'kesibukan' kita agar anak-anak juga boleh mendapat perhatian kita. Perhatian itu bukan hanya dalam bentuk barang (materi) tetapi juga ketika orangtua membuka jalur komunikasi kepada anak, mau mendengarkan mereka dan menyediakan waktu bagi mereka.

Kehilangan karena 'perceraian' orangtua
Umumnya anak-anak yang orangtuanya bercerai dilanda perasaan-perasaan kehilangan (hilangnya satu anggota keluarga: ayah atau ibunya), gagal, kurang percaya diri, kecewa, marah, dan benci yang amat sangat.
Richard Bugeiski dan Anthony M. Graziano (1980) menyatakan bahwa dua tahun pertama setelah terjadinya perceraian merupakan masa-masa yang amat sulit bagi anak-anak. Mereka biasanya kehilangan minat untuk pergi dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, bersikap bermusuhan, agresif depresi, dan dalam beberapa kasus ada yang bunuh diri.
Anak-anak yang orangtuanya bercerai menampakkan beberapa gejala fisik dan stres akibat perceraian tersebut seperti insomnia (sulit tidur), kehilangan nafsu makan, dan beberapa penyakit kulit. Riset menunjukkan, setelah kira-kira dua tahun mengalami masa sulit dengan perceraian orangtuanya, sampailah anak-anak tersebut ke masa keseimbangan atau masa equilibrium. Di masa itu, kesusahan dan penderitaan akut yang mereka alami sejak terjadinya perceraian mulai
berkurang.
Anak-anak telah belajar menyesuaikan diri dan melanjutkan kehidupan mereka. Namun, perceraian orangtua tetap menorehkan luka batin yang menyakitkan bagi mereka.
Selain beberapa dampak di atas, dalam beberapa kasus terjadi anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa, menjadi takut untuk menikah. Dia khawatir perkawinannya nanti akan mengalami nasib yang sama seperti orangtuanya. Kasus yang lain, anak yang orangtuanya bercerai, pada saat dewasa jadi membenci laki-laki atau perempuan karena menganggapnya sama dengan
ayah atau ibunya yang telah menghancurkan keluarganya.
Solusi Yang Perlu Dilakukan.
Sangat sulit menemukan cara agar anak-anak merasa terbantu dalam menghadapi masa-masa sulit karena perceraian orangtuanya. Sekalipun ayah atau ibu berusaha memberikan yang terbaik yang mereka bisa, segala yang baik tersebut tetap tidak dapat menghilangkan kegundahan hati anak-anaknya.
Beberapa psikolog menyatakan bahwa bantuan yang paling penting yang dapat diberikan oleh orangtua yang bercerai adalah mencoba menenteramkan hati dan meyakinkan anak-anak bahwa mereka tidak bersalah. Yakinkan bahwa mereka tidak perlu merasa harus ikut bertanggung jawab atas perceraian orangtuanya.
Hal lain yang perlu dilakukan oleh orangtua yang akan bercerai adalah membantu anak-anak untuk menyesuaikan diri dengan tetap menjalankan kegiatan-kegiatan rutin di rumah. Jangan memaksa anak-anak untuk memihak salah satu pihak yang sedang cekcok serta jangan sekali-sekali melibatkan mereka dalam proses perceraian tersebut.
Hal lain yang dapat membantu anak-anak adalah mencarikan orang dewasa lain seperti tante atau paman, yang untuk sementara dapat mengisi kekosongan hati mereka setelah ditinggal ayah atau ibunya. Maksudnya, supaya anak-anak merasa mendapatkan topangan yang memperkuat mereka dalam mencari figur pengganti ayah ibu yang tidak lagi hadir seperti ketika belum ada perceraian.
Kehilangan karena 'kematian' orangtua (atau salah satu)
Anak-anak tentunya lebih rentan terhadap stres akibat kehilangan, apalagi jika ia kehilangan salah satu orang tua.
Bagi seorang anak, meninggalnya salah satu orang tua merupakan musibah yang paling sulit diatasi dan menciptakan luka yang tidak akan pernah sembuh sepenuhnya. Kabar baiknya, menurut studi pada anak-anak yang dilakukan oleh Universitas Harvard, ternyata hanya ada sedikit anak yang benar-benar mengalami gangguan psikologis serius pada tahun-tahun setelahnya.
Kehilangan orang tua bisa mempengaruhi seorang anak dengan cara-cara berikut yang semuanya mudah dipahami;semuanya merupakan reaksi normal untuk situasi yang tidak normal:
- Mereka sedih dan merindukan orang tua yang meninggal tersebut. Kesedihan mereka akan tampak lewat gejala-gejala psikologis seperti: menangis, sulit tidur, dan sulit berkonsentrasi.
- Mereka akan mengungkapkan penderitaan emosi mereka melalui beberapa penyakit fisik, seperti: masuk angin, sakit kepala, dan sakit perut.
- Mereka mungkin merasa bersalah dan bertanya-tanya, apakah mereka penyebab meninggalnya orang tua mereka karena menjadi "anak nakal".
- Mereka mungkin marah karena ditinggalkan, dipaksa pindah, atau tiba-tiba memiliki lebih sedikit uang jika orang tua yang meninggal merupakan pencari nafkah utama.
- Mereka mungkin mencemaskan kondisi kesehatan orang tuanya yang masih hidup dan kebingungan jika orang tuanya terserang penyakit ringan seperti: masuk angin atau migrain.
- Mereka mungkin menolah ayah/ibu pengganti dan kakak/adik tiri baru yang datang bersamanya.
- Mereka mungkin terus menjalin hubungan dengan orang tuanya yang sudah tiada melalui mimpi, dengan melihat atau mendengar suaranya, merasa diawasi olehnya dan membayangkan seperti apa surga-tempat si orang tua yang meninggal itu sedang menunggunya.
- Mereka akan menimbang perilakunya dan memikirkan apakah itu akan menyenangkan orang tuanya yang sudah meninggal atau tidak.
- Mereka mungkin bergantung pada barang-barang yang ditinggalkan oleh orang tua yang sudah meninggal sebagai cara agar tetap terhubung.
Kira-kira setahun setelah orang tuanya meninggal, biasanya anak-anak sudah dapat mengatasi luka kehilangan sampai pada tingkat tertentu. Psikolog William Worden dari Universitas Harvard dan peneliti pekerja sosial Phyllis Silverman menemukan dalam hasil penelitiannya bahwa kebanyakan anak tidak terlalu sering menangis, tidur lebih baik, dan mampu berkonsentrasi kembali, tetapi sakit kepala, sakit perut dan gangguan fisik lain masih mengganggu seperti ketika orang tua baru meninggal.

Beberapa cara membantu anak menghadapi kehilangan orang tua antara lain:

1. Biarkan mereka membantu dalam proses pemakaman atau ritual berkabung lainnya. Ritual tersebut memberi sedikit tutupan (sebuah akhir, sebuah transisi yang penting).
2. Biarkan anak-anak membicarakan orang tua mereka yang telah tiada. Untuk sementara mereka perlu mempertahankan keberadaan orang tua yang sudah tiada ketika mereka menyerap kehilangan orang tua mereka. Anak-anak lebih mampu membicarakan orang yang sudah meninggal dan mereka cintai (sesuatu yang nyata dan dapat disentuh) ketimbang perasaan mereka (sesuatu yang abstrak).
3. Biarkan anak-anak mempertahankan rutinitas mereka sebanyak mungkin. Melanjutkan hidup seperti semula merupakan sikap yang menentramkan dan dapat membantu mereka membangun kembali dunia menjadi tempat yang aman.
4. Cari bantuan. Orang tua yang sedang berduka yang mencoba menangani kesedihannya sendiri dan kesedihan anak-anaknya tanpa ada pertolongan dari luar berarti menyiksa diri dan memberi hukuman yang berlebihan kepada diri sendiri. Ini saatnya meminta dukungan kakek, nenek, paman, bibi, dan kerabat lain untuk mendukung perawatan anak-anak Anda. Pastikan Anda juga menginginkan anak untuk bepaling kepada teman-teman, orang tua teman, dan guru-guru mereka untuk mencari ketentraman, atau tempat-tempat penyuluhan bagi mereka yang berkabung.

Windows® phone