Waspada Kanker Payudara


Waspada Kanker Payudara !


Payudara indah dambaan wanita. Namun, tentu saja definisi indah ini menjadi sangat relatif. Sebab, tak ada parameter yang menentukan indah atau tidaknya sepasang payudara. Nun atas segalanya, Tuhan memang menciptakan tubuh wanita dengan segala keindahannya, serta fungsi-fungsinya yang hakiki.

Begitu pula dengan payudara. Disanalah setiap anak manusia menikmati detik-detik pertama "rasa" dunia. Rasa yang dinikmati dari pancaran air susu ibu. Begitu tingginya penghargaan pada air susu ini, sehingga dalam bahasa "sufi" kerap disebut sebagai "sungai kehidupan".

Namun terkadang dibalik keindahan itu, Tuhan menyelipkan cobaan. Ironisnya, selain menjadikan tubuh wanita tidak menarik, cobaan itu juga dapat mengakibatkan kematian, sehingga seringkali menjadi momok menakutkan bagi wanita. Cobaan itu bernama Kanker Payudara. Dan tragisnya, pada wanita, frekuensi Kanker Payudara ternyata menempati peringkat kedua setelah kanker leher rahim (serviks).

Menurut Dr Idral Darwis, Kepala Tim Kanker Payudara dan Kanker Kulit dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Kanker Payudara adalah suatu penyakit neoplasma yang sifatnya ganas. Hal ini disebabkan pertumbuhan yang tidak terkendali dari sel-sel kelenjar susu yang terdiri dari saluran kelenjar susu dan tempat produksi air susu. Penyebabnya, perubahan struktur genetik dari sel tersebut, faktor lingkungan, prilaku, konsumsi makanan, konsumsi obat-obatan, virus, sehingga pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya.

"Penyakit itu berawal dari berubahnya sel normal menjadi abnormal. Untuk menjadi kanker, terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama inisiasi atau perubahan di dalam sel itu sendiri. Dalam tahap ini, terkadang sel bisa kembali menjadi normal. Namun sel yang tidak kembali normal berlanjut ke tahap promosi. Di tahap promosi ini ada faktor-faktor pencetus, misalnya lemak, sinar matahari, faktor lingkungan dan sebagainya. Proses di tahap promosi hingga menjadi sel kanker memakan waktu yang cukup lama, inilah yang disebut tahap proliferasi" papar Dr Idral yang di temui pdpersi.co.id di kediamannya bilangan Menteng, Jakarta, Senin (25/9).

Dr Idral menambahkan, sel kanker tersebut akan tumbuh terus dan melakukan penyebaran ke kelenjar getah bening regional (ketiak), lalu menuju pembuluh darah. Dengan bantuan pembuluh darah, sel berhenti dan menyebar di salah satu organ tubuh. Misalnya paru-paru, otak, tulang, lever atau hati. Akibatnya, jika fungsi organ tubuh tadi berubah, dapat menimbulkan kematian.

Stadium dalam Kanker Payudara, menurut dokter kelahiran Padang 54 tahun silam ini, dilihat dari penilaian tingkat klinis seperti besarnya tumor ganas (kanker), ada tidaknya kelenjar getah bening di ketiak, dan ada atau tidaknya penyebaran di organ-organ tubuh yang lain. Stadium itu disebut dengan parameter TNM atau Tumor, Nodus (kelenjar getah bening), dan Metastasis (penyebaran jauh).

Lemak Berkorelasi kuat

Berdasarkan penelitian Dr Idral dan rekan-rekan sejawatnya dari berbagai disiplin (Patologi Anatomi, Epidemologi, Gizi) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia serta tim dari Jepang, diketahui, mengkonsumsi lemak secara berlebihan ternyata punya korelasi kuat pada terjadinya kanker payudara. Hal ini diketahui setelah melakukan penelitian terhadap 600 responden.

Faktor-faktor risiko tinggi kanker payudara lainnya ialah wanita umur di atas 40 tahun yang tidak mempunyai anak, wanita yang mempunyai anak pertama pada umur 35 tahun, wanita yang tidak kawin, menarche lebih dini (dibawah 14 tahun), menopause yang lambat, riwayat trauma pada payudara, berat badan rendah, cenderung obesitas, hubungan keluarga dengan penderita kanker payudara (jalan ibu), jumlah kehamilan rendah, dan masa menyusui yang singkat atau tidak menyusui.

"Berdasarkan penelitian kita, yang paling berpengaruh adalah masalah makanan tinggi lemak. Lalu masalah hormonal orang yang tidak menyusui, serta orang yang tidak punya anak. Selain itu ada faktor keturunan jalan ibu, entah kakak perempuan yang kena Kanker Payudara, atau adik perempuannya, ibu, saudara perempuan ibu, nenek, sepupu, risiko mereka yang tumbuh pada keluarga yang punya riwayat Kanker Payudara ini adalah 10 persen," kata Dr Idral.

Uniknya, ternyata pria pun dapat menderita kanker payudara. Hal ini berkaitan dengan faktor hormonal. "Persentase Kanker Payudara pada pria adalah satu persen," ujar Dr Idral. "Nah, untuk laki-laki hubungan antara KPD dipengaruhi oleh adanya perubahan metabolisme hormonal yaitu esterogen, di mana didapatkan penurunan estrone dan peningkatan estriol dalam darah," ujar dokter yang juga menjadi Konsultan Senior Bedah Onkologi (payudara, leher & kepala, kulit dan jaringan lunak di RSUPN Ciptomangunkusumo serta RS Kanker Dharmais tersebut.

Hal lain yang juga unik adalah, faktor risiko Kanker Payudara di tiap-tiap negara sangat bervariasi dan tergantung dari hasil penelitian yang telah dilakukan pada populasi di tempat tersebut. Misalnya, faktor lemak tinggi ternyata juga menjadi penyebab signifikan Kanker Payudara bagi beberapa negara yang memang mayoritas masyarakatnya mengkonsumsi makanan lemak tinggi. Misalnya Amerika Serikat, Australia dan Belanda.

Sebaliknya, di Amerika Selatan dan Asia, Kanker Payudara mempunyai insidens yang rendah. Diperkirakan, Jepang dan Indonesia mempunyai insidens yang rendah. Walau di Indonesia insidensnya termasuk rendah, namun berdasarkan survei rumah tangga pada beberapa Rumah Sakit dan pencatatan hasil pemeriksaan patologi, frekuensi Kanker Payudara menempati peringkat nomor dua setelah kanker leher rahim (serviks).

Dapat Disembuhkan

Pada stadium dini, sebenarnya Kanker Payudara dapat disembuhkan. Sayangnya, di Indonesia, biasanya penderita datang dalam kondisi stadium lanjut (50 persen). Akibatnya, penanganan Kanker Payudara hanya berkisar pada tujuan valiatif atau meringankan gejalanya saja. Hal inilah yang menyebabkan insidens, morbiditas serta angka kematian (mortalitas) masih tetap tinggi. Padahal jika sebelumnya ada upaya pencegahan primer dan deteksi dini atau pencegahan sekunder, boleh jadi angka-angka itu dapat ditekan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr Idral dan rekan-rekan, konsep dasar pencegahan primer ini meliputi:
Mencegah terpaparnya substansi yang menyebabkan risiko terjadinya Kanker Payudara, misalnya merubah kebiasaan hidup (lifestyle) konsumsi tinggi lemak.
Menggunakan proteksi terhadap bahan karsinogenik (tumbuhan ganas yang berasal dari sel-sel epitel), misalnya memakai proteksi terhadap radiasi.
Menggunakan bahan yang dapat mencegah proses karsinogenik, misalnya memakai bahan antiproliferatif untuk mencegah proses Kanker Payudara, contoh pemberian Tamoxifen (preparat antiesterogen). Pemberian Tamoxifen ini pernah dilakukan pada 16 ribu wanita secara prospektif dan acak.

Sementara itu, pencegahan sekunder atau disebut juga skrining/deteksi dini, dianggap sebagai upaya paling rasional untuk menurunkan angka kematian akibat Kanker Payudara. Penelitian skrining ini dilakukan pertama kali oleh Health Insurance Plan of Greater New York tahun 1963, hasilnya mampu menurunkan angka kematian antara 20 hingga 25 persen pada kelompok umur lebih dari 50 tahun.

Cara pemeriksaan untuk pelaksanaan skrining terdiri dari pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga kesehatan, misalnya spesialis bedah, dokter umum, perawat yang terlatih. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI). Pemeriksaan penunjang atau mamografi.

Mendeteksi dini kanker payudara bisa dilakukan dengan cara:
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sejak usia 20 tahun.
Pemeriksaan berkala oleh dokter setiap dua hingga tiga tahun pada usia 20 hingga 40 tahun.
Pemeriksaan berkala oleh dokter setiap tahun setelah berusia 35 tahun.
Mamografi satu hingga dua kali pada usia 35 hingga 49 tahun. ( mamografi = pemeriksaan radiodiagnostik khusus dengan mempergunakan teknik foto "soft tissue" pada payudara.).
Mamografi setiap tahun setelah berusia 50 tahun.

Pemeriksaan Payudara Sendiri atau SADARI diangap sebagai cara termurah, aman, dan sederhana. Meski demikian pemeriksaan ini haruslah berdasarkan petunjuk dan pedoman yang telah ada. Dengan SADARI, bukan tidak mungkin akan lebih banyak Kanker Payudara stadium dini yang dapat dideteksi. Sayangnya, SADARI diangap masih belum efektif. Hal ini dikarenakan ketakutan dan kecemasan dalam menghadapi kenyataan, serta masih sedikitnya wanita yang memakai cara test ini (sekitar 15 hingga 30 persen). Selain itu pemahaman SADARI secara teknis masih belum dikuasai.

Ada beberapa tanda kanker payudara dini yaitu:
Benjolan dengan batas tidak tegas.
Konsistensi keras.
Tidak sakit.
Ada cekungan pada kulit di atas tumor.
Ada bagian kulit yang terlihat seperti kulit jeruk (pour d' orange).
Koreng dan kemerahan pada kulit.
Pembesaran getah bening di ketiak dan di atas tulang selangka.

Andaipun Kanker Payudara sudah menyerang, berbagai pengobatan dapat ditempuh. Yaitu operasi, radiasi (emisi gelombang elektromagnetik, seperti gelombang alfa, beta, gama) dan kemoterapi (mengobati penyakit dengan zat-zat kimia).


Windows® phone