Macam-Macam Narkoba dan Dampaknya

Narkoba dan Dampaknya


Heroin--Sifat dan Dampaknya
Pertama kali ditemukan oleh ahli kimia Inggris pada 1974, heroin atau diasetilmorfin adalah ikatan unsur aktif opium, yaitu morfin (yang diambil dari bunga opium), dengan asam industri umum, anhidra asetat. Pada akhir abad ke-19, heroin dibuat secara besar-besaran sebagai penawar rasa sakit berspektrum luas. Heroin dahulu dianggap sebagai pengganti morfin yang "aman dan tidak adiktif".
Menyebabkan kecanduan fisik yang tinggi dan ketergantungan psikologis jangka panjang.
Dipakai dengan cara disuntikkan, diendus atau dihisap.
Tergantung pada ketersediaan dan keuangan pengguna, narkoba ini biasanya disuntikkan kurang-lebih tiga kali sehari (setiap delapan jam).
Efeknya bertahan tiga hingga enam jam.
Perilaku yang umum setelah memakai heroin, antara lain rasa euforia dan kantuk yang sangat segera setelah disuntikkan, lesu, wajah yang memelas dan mungkin juga berjalan dengan kaki diseret.
Gejala putus zat akut dimulai dalam 8-12 jam setelah dosis terakhir.
Gejala putus zat umumnya tidak berbahaya tetapi dapat sangat menyakitkan. Gejala bisa termasuk ketidaknyamanan pada perut, kram otot, dan gejala seperti flu. Gejala putus zat dapat begitu parah sehingga waktu pengguna memperoleh heroin, mereka akan menyuntikkannya secepat mungkin, kadang kala tanpa memperhatikan risiko terinfeksi HIV, serta hepatitis B dan C.
Masalah kesehatan yang terkait dengan penggunaan heroin suntikan jangka panjang bisa termasuk pembuluh darah yang mengempis, abses, tetanus, HIV/AIDS, hepatitis B dan C, penyakit jantung, dada dan paru, serta sembelit. Overdosis dapat terjadi dengan atau tanpa penggunaan jangka panjang.


Opium--Sifat dan Dampaknya
Satu-satunya sumber opium adalah poppy opium (Papaver somniferum). Efek psikologis dan penyembuhan opium diketahui kurang-lebih 4.000 tahun.
Dengan menoreh kepala bunga poppy, petani dapat menyadap getah lengket berwarna coklat dari ubi-ubian berbentuk telur. Getah opium mentah mengandung 7-15 persen morfin, yang dengan mudah dapat diendapkan dari getah poppy hanya dengan mendidihkannya. Opium mentah mempunyai bau khas yang kuat dan pedas.
Reseptor opiat dalam otak menimbulkan kecanduan fisiologis yang tinggi dan ketergantungan psikologis bertahan lama. Penggunaan secara biasa meningkatkan toleransi dan kebutuhan akan semakin banyak narkoba itu.
Penggunaan opium di negara Barat menurun secara bermakna tetapi opium masih dipakai secara luas di antara minoritas etnis di daerah pegunungan di Cina, Laos, Kamboja, Myanmar, Thailand dan Vietnam, untuk maksud rekreasional maupun medis.
Opium dapat membuat euforia yang hebat, rasa nyaman yang meningkat, daya khayal dan berbicara lebih tinggi. Segera setelah dipakai, pernapasan diperlambat, daya khayal menurun dan proses pikiran menjadi kacau. Kelesuan, persantaian dan tidur mendalam biasanya mengikutinya.
Biasanya dihisap tetapi dapat dikunyah atau dimasak dengan makanan. Terutama di negara asalnya, opium diminum seperti teh.
Pipa opium mempunyai gagang tebal dan panjang dengan kepala mangkok di ujungnya. 'Butir' opium ditaruh di mangkok, dipanaskan dan asapnya dihisap.
Endapan atau sisa-sisa yang ditinggalkan di dalam peralatan hisap mengandung hingga delapan persen morfin, dan ini sering dipakai kembali, disebut sebagai opium air hitam. Bentuk opium ini masih populer terutama di Vietnam dan Kamboja.
Menghisap opium mengarahkan unsur aktifnya pada aliran darah lebih cepat, melalui paru-paru, sehingga sampai ke otak dalam waktu kurang-lebih tujuh detik.
Penggunaan jangka panjang mengakibatkan penurunan dalam kemampuan mental dan fisik, serta kehilangan nafsu makan dan berat badan.
Gejala putus zat, serupa dengan yang diakibatkan heroin, termasuk kegelisahan, lekas marah, keresahan, tak bisa tidur, dan sakit perut dan otot.

Kokain--Sifat dan Dampaknya
Penduduk Amerika Selatan memiliki sejarah ribuan tahun mengunyah daun koka akan tetapi itu hanya diketahui oleh orang-orang Eropa sejak abad ke-19. Daun koka mempengaruhi beberapa sistem neuropemancar dalam otak dan giat pada beberapa bagian anatomis pada susunan saraf pusat.
Kokain dibuat secara kimia dengan mengelola dan mengerjakan tumbuhan koka yang mengubah daunnya menjadi pasta koka. Pasta tersebut diproses dengan air keras (asam hidroklorik) untuk menghilangkan kotoran dan menghasilkan kokain hidroklorid dalam bentuk kristal yang putih.
Kokain adalah obat perangsang yang paling manjur.
Jika daun koka dikunyah atau dimasak menjadi teh yang diminum, kokain sebenarnya dianggap tidak berbahaya akan tetapi itu jarang tersedia dalam bentuk seperti ini selain di Amerika Selatan.
Ada pertentangan antara yang berwenang dan para peneliti mengenai sifat adiktif kokain. Walaupun beberapa menyatakan bahwa kokain menimbulkan risiko tinggi terhadap pengembangan ketergantungan fisik dan fisiologis, banyak peneliti mengesankan bahwa kokain tidak membuat ketergantungan fisik.
Cara memakai kokain dapat termasuk diendus lewat pernapasan dalam rongga (efek serangan dimulai setelah 2-4 menit); menghisap atau "freebasing" (membakar kristal dan menghisap asapnya; efek serangan dimulai setelah 10-15 detik); dan menyuntik (efek serangan dimulai setelah 15-20 detik).
Efek kokain tahan 10-40 menit tergantung pada kemurnian dan cara pemakaiannya.
Perilaku yang lazim selama di bawah pengaruh kokain dapat termasuk hiperaktif, keriangan, dan bertenaga, ketajaman perhatian, percaya diri dan kegiatan seksual yang meningkat. Pengguna juga dapat berperilaku tidak berpendirian tetap, merasa tidak terkalahkan dan menjadi agresif dan suka bertengkar.
Kondisi yang dapat mematikan dapat terjadi dari kepekaan yang tinggi terhadap kokain atau overdosis secara besar-besaran.
Beberapa jam setelah pemakaian terakhir, rasa pergolakan dan depresi dapat terjadi.
Ada risiko tinggi terhadap penularan HIV melalui suntikan berulang yang memakai peralatan suntik bergantian, dan melalui sanggama secara lama yang tidak dilindungi kondom.

Cannabis--Sifat dan Dampaknya
Cannabis adalah hasil psikotropik dari tanaman Cannabis sativa. Tanaman tersebut dianggap telah dipakai ribuan tahun yang lalu untuk alasan medis, keagamaan dan sosial. Tangkai tanaman tersebut (bentuk cannabis yang tidak manjur) dipakai untuk membuat tali rami, senar, kertas, tekstil dan pakaian.
Ada tanaman cannabis jantan dan betina. Kepekatan bahan kimia psikoaktif, tetrahidrokanabinol atau THC yang tertinggi ditemukan pada pucuk bunga tanaman betina.
Narkoba ini dipakai secara luas dengan kemungkinan dampak buruk relatif rendah dibanding dengan heroin, alkohol dan tembakau.
Ada beda pendapat antara para ahli mengenai kemampuan cannabis menimbulkan ketergantungan fisik. Ketergantungan fisik dapat berhubungan dengan seringnya memakai cannabis.
Ada tiga bentuk cannabis: mariyuana, hasyis (hashish) dan minyak hasyis. Mariyuana adalah daun dan bunga kering pada tanaman cannabis dan umumnya dampaknya paling ringan di antara ketiga bentuk cannabis. Hasyis membentuk lapisan minyak kental pada bunga bagian atas yang diambil dan dicetak sebagai gumpalan dari damar kering. Kepekatan THC hasyis lebih tinggi sehingga mengakibatkan efek yang hebat. Minyak hasyis adalah hasil penyulingan damar tanaman cannabis dan adalah yang terkuat dari semua jenis cannabis.
Mariyuana biasanya dihisap dalam rokok yang digulung dengan tangan, atau memakai pipa. Jenis pekat yaitu hasyis, atau minyak hasyis, sering dihisap dengan rokok biasa atau dimasukkan ke dalam bahan makanan seperti kue atau biskuit dan dimakan.
Dampaknya berbeda-beda akibat beberapa faktor yang terkait dengan sifat pengguna, cara penggunaan, jenis cannabis dan kekerapan serta waktu cannabis dipakai. Beberapa efek dapat termasuk euforia, santai, keringanan stres dan rasa sakit, nafsu makan bertambah, perusakan pada kemampuan bergerak, kebingungan, hilangnya konsentrasi serta motivasi berkurang.
Efek yang didapat biasanya mencapai puncaknya dalam waktu 30 menit dan dapat bertahan selama tiga jam.
Gejala putus zat setelah penggunaan jangka panjang dapat termasuk sakit kepala, kegelisahan, depresi, dan gangguan tidur.
Seperti hasil pembakaran lainnya, cannabis mengandung zat yang mengakibatkan kanker, tar dan karbon monoksida. Ini dapat mengakibatkan penyakit pernapasan, efek kardiovaskular serta kanker. Sebatang rokok cannabis mengandung sejumlah tar dan zat beracun lainnya serupa dengan 14-16 batang rokok filter.

Amfetamin--Sifat dan Dampaknya
Amfetamin pertama dibuat di Jerman pada akhir abad ke-19 tetapi baru dipatenkan pada 1930-an. Pada 1940-an amfetamin mulai dipakai sebagai terapeutik untuk berbagai macam kondisi medis seperti ayan, depresi dan untuk anak yang hiperkinetik. Setelah Perang Dunia II, amfetamin dipromosikan secara luas.
Amfetamin bersifat menimbulkan rangsangan, serupa dengan adrenalin, suatu hormon yang merangsang kegiatan susunan saraf pusat dan meningkatkan kinerja otak.
Amfetamin tersedia dalam beberapa bentuk dan jika dibuat secara ilegal dapat berupa serbuk, tablet, kapsul atau cairan.
Dipakai dengan cara ditelan, disuntikkan, dihirup melalui hidung dan dihisap seperti rokok jika berbentuk metamfetamin hidroklorid.
Umumnya amfetamin yang dibuat secara ilegal adalah dalam bentuk metamfetamin. Bahan dasar yang paling umum untuk membuat metamfetamin adalah efedrin, suatu zat yang legal, mudah diperoleh dalam bentuk tablet atau kapsul dan dijual sebagai decongestant.
Mengobati diri sendiri dengan amfetamin adalah umum di antara sopir truk, pelajar, nelayan, dan pengusaha untuk bertahan dari kelelahan. Penggunaan amfetamin memungkinkan mereka bekerja berhari-hari dengan sedikit tidur dan makan.
Efek amfetamin biasanya hilang setelah 3-6 jam dan pemakai dapat secara tiba-tiba menjadi lelah, suka marah, murung dan tidak bisa konsentrasi. Efek metamfetamin (ice) ketika dihisap dapat bertahan antara 2-16 jam tergantung dari jumlah yang dipakai.
Efek amfetamin berbeda-beda dan tergantung pada dosis, cara pemakaian, orang itu sendiri, dan keadaan saat amfetamin dipakai.
Dosis yang ringan dapat menghasilkan perasaan euforia, peningkatan kewaspadaan, peningkatan tenaga dan kegiatan, mengurangi nafsu makan dan kepercayaan diri. Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan malanutrisi, kelelahan, depresi dan psikosis. Kematian yang diakibatkan penggunaan obat perangsang jarang terjadi tetapi lebih mungkin jika amfetamin disuntikkan.
Toleransi dapat menyebabkan seorang pengguna jangka panjang membutuhkan 20 kali dosis awal untuk memperoleh efek yang sama.
Terkenal dapat memudahkan interaksi sosial dan seksual, yang berakibat terhadap risiko potensial HIV akibat seksualitas yang meningkat tetapi tidak disertai dengan kebiasaan seks aman.
Gejala putus zat pada periode awal dapat termasuk kelelahan yang akut, dan untuk pemakai tetap, itu dapat diikuti dengan sifat lekas marah, kelesuan, depresi yang dalam, serangan kegelisahan dan ketagihan yang hilang-timbul.

Ecstasy atau MDMA--Sifat dan Dampaknya
Sekalipun pertama kali dipatenkan di Jerman pada 1914 untuk menekan nafsu makan, zat ini tidak pernah dipasarkan. Pada 1970-an ecstasy digunakan oleh para psikiater di AS sebagai zat penolong yang berharga dan aman untuk konseling dan terapi, hingga akhirnya dilarang pada pertengahan 1980-an. Pada 1990-an ecstasy umumnya dihubungkan dengan pesta dansa dan kegiatan sosial lainnya.
Terkait erat dengan amfetamin dan halusinogen, ecstasy sering kali digambarkan sebagai narkoba psikedelik dengan sifat merangsang.
Berbentuk tablet (yang paling umum terlihat), kapsul dan bubuk.
Cara pemakaian yang paling disukai adalah dengan menelannya meskipun ada laporan mengenai orang yang mencoba-coba menyuntik atau menghirup ecstasy.
Dampak ecstasy yang ditelan mulai terasa setelah 30-60 menit dan dapat bertahan selama beberapa jam.
Dampak langsung dapat berupa terlalu aktif (rush) hingga euforia, diikuti oleh perasaan tenang dan peningkatan kesadaran akan hawa nafsu. Rasa segan menghilang, ada peningkatan pada rasa harga diri dan percaya diri, dan peningkatan kepercayaan serta hubungan antara teman dapat terjadi. Efek merugikan dapat termasuk mulut dan tenggorokan kering, rahang kaku terkunci, peningkatan kecepatan denyut jantung dan tekanan darah.
Overdosis dapat terjadi akibat tekanan darah yang sangat tinggi, serta peningkatan denyut jantung dan suhu tubuh. Kematian dilaporkan akibat cairan dalam tubuh yang tidak seimbang karena dehidrasi atau kelebihan air.
'High' dapat diikuti kelelahan, kegelisahan dan depresi yang dapat bertahan beberapa hari.
Daya tahan (toleransi) dapat dikembangkan dengan penggunaan ecstasy yang terus-menerus dan ada kesan bahwa ketergantungan dapat terjadi. Sedikit diketahui mengenai efek ecstasy jangka panjang tetapi dikesankan bahwa ecstasy dapat merusak beberapa macam sel otak.

Halusinogen--Sifat dan Dampaknya
Pertama kali dibuat secara sintetis pada 1940-an untuk menghilangkan hambatan yang merintangi pada kasus kejiwaan. Halusinogen yang diperoleh dari tumbuh-tumbuhan, seperti kaktus peyote, telah dipakai golongan pribumi Meksiko selama beberapa ratus tahun untuk kegiatan keagamaan dan hiburan.
Halusinogen juga dikenal sebagai psikedelik, bertindak pada susunan saraf pusat untuk membuat perubahan yang bermakna dan sering radikal pada keadaan kesadaran pengguna; juga dapat mengacaukan perasaan kenyataan, waktu dan emosi para pengguna.
Lysergic acid diethylamide (LSD) adalah halusinogen yang paling terkenal. Ini adalah narkoba sintetis yang disarikan dari jamur kering (dikenal sebagai ergot) yang tumbuh pada rumput gandum. Proses pembuatan LSD dari bahan baku membutuhkan pengetahuan dan keahlian teknik yang tinggi.
LSD adalah cairan tawar, yang tidak berwarna dan tidak berbau yang sering diserap ke dalam zat apa saja yang cocok seperti kertas pengisap dan gula blok, atau dapat dipadukan dalam tablet, kapsul atau kadang-kadang gula-gula. Bentuk LSD yang paling populer adalah kertas pengisap yang terbagi menjadi persegi dan dipakai dengan cara ditelan. Tak serupa dengan narkoba lain, pengguna LSD mendapat sedikit gagasan apa yang mereka pakai dan efeknya dapat berubah-ubah dari orang ke orang, dari peristiwa ke peristiwa dan dari dosis ke dosis.
Efeknya dapat mulai dalam satu jam setelah memakai dosis, bertambah antara 2-8 jam dan berangsur hilang secara perlahan-lahan setelah kurang-lebih 12 jam.
Untuk banyak pengguna LSD efeknya dapat menjadi nikmat yang luar biasa, sangat tenang dan mendorong perasaan nyaman. Sering kali ada perubahan pada persepsi, pada penglihatan, suara, penciuman, perasaan dan tempat. Efek negatif LSD dapat termasuk hilangnya kendali emosi, disorientasi, depresi, kepeningan, perasaan panik yang akut dan perasaan tak terkalahkan, yang dapat mengakibatkan pengguna menempatkan diri dalam bahaya fisik.
Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan sorot-balik pada efek halusinogenik, yang dapat terjadi berhari-hari, berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah memakai LSD.
Tidak ada bukti adanya ketergantungan fisik dan tidak ada gejala putus zat yang telah diamati bahkan setelah dipakai secara berkesinambungan. Namun, ketergantungan kejiwaan dapat terjadi.
Toleransi terhadap LSD dapat berkembang dengan cepat tetapi toleransi juga dapat hilang setelah 5-6 hari bila tidak tetap dipakai.
Halusinogen lain termasuk meskalin (tanaman alami yang berasal dari kaktus peyote), pala, jamur-jamur tertentu (yang mengandung zat psilosin dan psilosibin), dimetiltriptamin (DPT), fensiklidin (PCP) dan ketamin hidroklorid.

Nikotin/Tembakau--Sifat dan Dampaknya
Dikenal dan telah dipakai oleh penduduk asli Amerika pada upacara keagamaan dan peristiwa sosial seribu tahun lalu. Dikenal di Eropa pada abad ke-17, nikotin telah dipakai untuk maksud hiburan dan pengobatan. Pemakaian tembakau diperluas dengan diperkenalkannya jenis tembakau yang lebih ringan, mesin penggulung rokok otomatis, kampanye iklan secara besar-besaran dan ketika pemerintah melihat ini sebagai sumber pajak.
Nikotin, terdapat di tembakau, adalah salah satu zat yang paling adiktif yang dikenal. Nikotin adalah perangsang susunan saraf pusat (SSP) yang mengganggu keseimbangan neuropemancar. Ketergantungan fisik pada nikotin dan yang lebih penting, ketergantungan psikologis pada rokok, berkembang dengan cepat.
Menghisap tembakau menghasilkan efek nikotin pada SSP dalam waktu kurang-lebih sepuluh detik. Jika tembakau dikunyah, efek pada SSP dialami dalam waktu 3-5 menit.
Efek nikotin ketika tembakau dipakai dengan cara menghisap, mengunyah atau menghirup tembakau sedotan, menyebabkan penyempitan pembuluh darah, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, nafsu makan berkurang, menimbulkan emfisema ringan, sebagian menghilangkan perasaan citarasa dan penciuman serta memerihkan paru. Penggunaan tembakau jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan pada paru-paru, jantung dan pembuluh darah, dan menyebabkan kanker.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization--WHO) memperkirakan bahwa merokok bertanggung jawab terhadap kematian satu dari lima orang. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen perokok akan meninggal dunia sebelum waktunya sebagai akibat langsung dari penyakit yang disebabkan tembakau.
Toleransi pada efek nikotin berkembang dengan cepat, lebih cepat dibanding heroin dan kokain.
Gejala putus zat setelah penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan sakit kepala, sifat lekas marah yang parah, ketidakmampuan berkonsentrasi, gelisah dan gangguan tidur. Ketagihan pada nikotin mungkin bertahan seumur hidup setelah berhenti memakai tembakau.
Untuk yang sangat ketergantungan fisik, koyo nikotin tersedia sebagai bentuk yang secara relatif tidak berbahaya untuk menghindari efek asap tembakau yang berbahaya seperti karbon monoksida, tar, sulang asap dan hasil sambilan tembakau lainnya.



Pelarut, Penghirup dan Zat Volatil--Sifat dan Dampaknya
Sejak jaman purbakala manusia telah menghirup asap wangi-wangian, obat salep dan rempah-rempah yang dibakar sebagai bagian dari upacara keagamaan mereka. Penyalahgunaan pelarut, seperti yang kita kenal, muncul pada 1950-an di AS dan sejak itu menjalar ke sebagian besar dunia.
Tiga jenis utama penghirup adalah pelarut organik, nitrat volatil dan oksida nitrous.
Beberapa penghirup yang paling umum termasuk lem, penyemprot aerosol, bahan pengencer cat, produk minyak, cat dasar krom, spidol.
Menghirup dilakukan melalui mulut atau hidung. Sering kali produk dapat disemprotkan ke dalam kantong plastik atau kain lap yang direndam dan kemudian dihirup, atau secara langsung dihirup dari wadahnya.
Penghirup diserap melalui paru ke dalam aliran darah, yang kemudian membawa bahan kimia dengan cepat ke otak. Bahan ini melambatkan kegiatan otak dan susunan saraf pusat.
Efek yang memabukkan sering bertindak cepat (7-10 detik), hebat dan bertahan singkat tidak lebih dari 30-60 menit (beberapa penghirup hanya bertahan dua menit).
Efeknya dapat termasuk kegembiraan, pening, keadaan kelengar, disorientasi dan gangguan visual tak teratur serta berbicara mencerca. Penggunaan jangka panjang, terutama produk minyak yang mengandung timbel, dapat mengakibatkan kerusakan pada otak, hati, ginjal dan terutama paru. Kematian dapat terjadi akibat berhenti bernapas dan denyut jantung tidak teratur.
Pelarut organik sering mudah tersedia, murah dan umumnya dipakai oleh orang muda saat tahun-tahun pertama di sekolah menengah pertama.

Alkohol--Sifat dan Dampaknya
Alkohol adalah narkoba psikoaktif yang paling umum dipakai di dunia dan paling lama dikenal. Ada banyak catatan, dalam kepustakaan, keagamaan dan ilmu pengetahuan, mengenai alkohol, efek dan akibatnya.
Pembuatan alkohol adalah hasil dari fermentasi. Air dan ragi bereaksi dengan bermacam-macam gula dan beraneka ragam gandum, sayuran dan buah-buahan. Narkoba psikoaktif hasilnya adalah etil alkohol.
Sebagai narkoba depresan, alkohol memperlambat kegiatan susunan saraf pusat dan dalam dosis rendah dapat menjadikan tenang dengan hambatan dikurangi. Setelah efek depresan mengambil alih, alkohol dapat memperlambat refleks, menekan pernapasan dan denyut jantung serta mengacaukan pikiran dan keputusan.
Peminum berat biasanya mengembangkan toleransinya terhadap alkohol dan butuh minum lebih banyak lagi agar dapat mengalami efek yang sama.
Kecanduan alkohol adalah suatu penyakit kronis progresif yang ditandai dengan kurangnya kendali terhadap meminum alkohol, pengutamaan penggunaan alkohol meskipun mengakibatkan kerugian dan penolakan. Jika tidak ditanggulangi itu dapat berakibat fatal. Meskipun pengembangan kecanduan alkohol dapat memakan waktu bertahun-tahun, masa pemulihannya dapat membutuhkan waktu seumur hidup.
Efek jangka panjang alkohol terhadap tubuh, setelah meminumnya secara berat selama waktu yang lama, adalah luas. Ini dapat meliputi tekanan darah tinggi, jantung yang membesar, sirosis hati, hati membengkak dan sakit, menimbulkan luka memar di kulit, tukak pada perut dan usus, otot yang lemah, hilang ingatan, hilang perasaan di kaki dan tangan serta kerusakan pada janin jika sedang hamil.
Masalah perilaku biasanya dikaitkan dengan alkohol. Beberapa masalah dapat meliputi kekerasan dalam keluarga, kemangkiran dalam bekerja, celaka saat berkendaraan, permasalahan hukum dan denda terkait dengan kekerasan serta kesulitan keuangan.
Meminum alkohol secara tetap dapat berakibat pada ketergantungan psikologis serta fisik.
Seseorang yang ketergantungan fisik akan menderita gejala putus zat, yang dapat meliputi hilangnya nafsu makan, lekas marah, kebingungan, susah tidur, kejang-kejang, gemetaran, halusinasi dan bahkan mendapat serangan yang mematikan.

Benzodiazepin--Sifat dan Dampaknya
Golongan narkoba sintetis ini telah dikembangkan pada akhir 1940-an dan pada 1950-an sebagai alternatif untuk barbiturat. Di Barat benzodiazepin mulai dipakai secara luas untuk kebutuhan klinis pada 1960-an dan 1970-an. Benzodiazepin dianggap sebagai pembaharuan untuk mengobati kegelisahan dan masalah susah tidur.
Benzodiazepin adalah istilah kelompok kimia yang digolongkan sebagai obat penenang (sedative) atau yang menenangkan (tranquilliser). Golongan obat ini terus diperluas yang meliputi Temazepam, Diazepam, Nitrazepam, Oksazepam, Klonazepam dan Flunitrazepam.
Benzodiazepin bergabung dengan bagian sel urat saraf tertentu dalam otak untuk meningkatkan mekanisme penghalang. Menyebabkan keadaan tenang, kemunduran tanggapan fisik, mental dan emosional. Ketika diberikan dalam dosis yang berlebihan, benzodiazepin akan menyebabkan kantuk.
Benzodiazepin biasanya diberikan dalam bentuk tablet, kapsul atau cairan. Biasanya ditelan atau disuntikkan. Efek menenangkan dirasakan setelah kira-kira 45 menit dan beberapa kadar sedasi dapat bertahan selama 24 jam.
Efek samping yang merugikan dapat meliputi kelesuan, kebingungan, suasana hati yang berubah-ubah, mual, kepeningan, mimpi buruk, dan mencerca kemampuan berbicara. Jika diresepkan secara berlebihan atau disalahgunakan oleh perorangan obat ini dapat mengakibatkan kegelisahan, lekas marah dan permusuhan. Dicampur dengan obat lain benzodiazepin dapat mengurangi pertimbangan pada waktu, tempat dan jarak, dan jika digabungkan dengan alkohol dapat mengakibatkan kematian.
Setelah dosis tinggi diteruskan selama dua bulan atau dosis rendah dipakai selama setahun atau lebih, gejala putus zat dapat luar biasa hebat dan lama. Perasaan ketagihan akan obat ini, kegelisahan, gangguan tidur dan kemungkinan halusinasi dapat terjadi. Gejala putus zat dapat muncul dan hilang secara tidak teratur dalam siklus 2-10 hari dan dapat bertahan beberapa bulan setelah penggunaan benzodiazepin dihentikan.

Steroid Anabolik--Sifat dan Dampaknya
Obat yang memperkuat prestasi telah tercatat sepanjang sejarah kehidupan manusia. Pada 1920-an, testosteron (hormon laki-laki) telah dipisahkan dan saat Perang Dunia II obat tersebut telah diberikan kepada tentara untuk mengatasi kelelahan dan luka-luka. Sejak 1950-an, testosteron dibuat secara sintetis dan penggunaannya segera dihubungkan dengan prestasi olahraga.
Steroid anabolik termasuk kelompok persenyawaan sintetis yang secara struktural terkait pada hormon laki-laki dengan meningkatkan testosteron alami. Membuat kegiatan anabolik (meningkatkan besarnya otot yang menghasilkan peningkatan kekuatan otot) perpaduan protein dan kegiatan androgenik (mempertinggi sifat kelamin sekunder).
Steroid anabolik diberikan dengan cara disuntikkan intravena (ke pembuluh darah) atau intramuskular (pada otot) dan juga dapat diminum.
Jenis steroid anabolik yang dapat disuntikkan dirancang untuk bertindak lebih lama daripada yang diminum dan zat aktifnya dilepaskan berangsur-angsur. Pemberian dengan cara disuntikkan semakin sering menimbulkan keprihatinan dan berisiko terhadap HIV, hepatitis B dan C.
Terutama dipakai untuk meningkatkan pembesaran otot, juga dapat memungkinkan penggunanya berlatih lebih keras, mempercepat masa pemulihan dan meningkatkan proses penyembuhan untuk beberapa jenis luka-luka.
Efek awal dapat meliputi penambahan rasa percaya diri dan kekuatan, peningkatan motivasi dan antusiasme, penambahan sifat agresif dan gairah seksual. Dosis yang lebih besar dapat mengakibatkan hilangnya rintangan, kehilangan pandangan baik dan suasana hati berubah-ubah. Pengguna jangka panjang menjadi suka bertengkar dan agresif. Penggunaan secara berat jangka panjang dapat mengakibatkan penyakit jantung, kerusakan hati, kekacauan mental dan kekerasan.
Ketergantungan fisik dianggap tidak terjadi, tetapi beberapa pengguna menjadi ketergantungan psikologis, dengan anggapan bahwa prestasi fisik dan prestasi olahraganya akan menurun jika tidak memakai steroid anabolik.
Gejala putus zat dapat meliputi depresi berat, insomnia, kelesuan, hilang nafsu makan, sakit kepala dan ketagihan akan steroid anabolik.


Metadon--Sifat dan Dampaknya
Metadon pertama dibuat oleh ahli kimia Jerman pada awal abad 20-an dan itu sudah dipakai secara klinis sejak akhir Perang Dunia I.
Metadon adalah opiat sintetis yang kuat seperti heroin dan morfin tetapi tanpa efek sedatif yang kuat. Metadon dapat menggantikan heroin dan secara luas telah dipakai dalam terapi ketergantungan heroin.
Bentuk dasar metadon adalah kristal bubuk putih. Biasanya diberikan sebagai campuran dengan sirop atau sari buah. Metadon juga tersedia dalam bentuk yang dapat disuntikan. Pengguna diketahui menyuntikkan metadon "sirop", yang sering kali mengakibatkan masalah kesehatan.
Efeknya mulai terasa dalam satu jam setelah diminum, dengan efek puncak terasa dalam 4-8 jam. Efek dari metadon bertahan lebih lama (biasanya hingga 24 jam) dibanding heroin dan oleh karena itu biasanya metadon diberikan hanya satu kali sehari.
Dosis yang diberikan berbeda untuk orang yang berbeda dan dari awal terapi, dosis metadon secara berangsur-angsur ditingkatkan sementara diamati tingkat toleransinya dan untuk menghindari serangan gejala putus heroin. Setelah pengobatan stabil, dosis harian dapat berbeda-beda dari 40mg hingga lebih dari 100mg metadon.
Jika dosis yang diberikan terlalu rendah gejala putus opiat dapat terjadi yang mengakibatkan gejala kram perut, mual dan muntah-muntah, lekas marah, dan punggung serta tulang sendi sakit. Dosis metadon yang terlalu tinggi dapat ditunjukkan oleh gejala seperti kantuk, tertidur, sesak napas dan manik mata mengecil.
Efek samping lain yang dapat terjadi tetapi tidak terkait dengan tingkat dosis yang diberikan, dapat termasuk berkeringat, sembelit, otot dan tulang sendi sakit, nafsu seks berkurang, ketahanan cairan, hilang nafsu makan dan gigi membusuk.
Metadon dapat mengakibatkan ketergantungan tetapi ini biasanya dianggap tidak parah dibanding ketergantungan heroin dan morfin dan lebih mudah diobati. Orang dapat melepaskan penggunaan metadon dengan mengurangi dosisnya secara berangsur-angsur, dengan tidak menentukan jadwal untuk mencapai tujuan ini, dan berkonsultasi dengan konselor/dokter yang terlibat dalam program metadon mengenai apa yang harus dilakukan.
Berhenti memakai metadon secara mendadak tidak diusulkan karena ketidaknyamanan dapat mengakibatkan pasien memakai heroin lagi secara tetap.


Windows® phone