Kesetaraan Gender dan Kebebasan Wanita dalam Islam



Kebebasan Wanita; Paparan Tentang Sejarah dan Realita

Kebebasan merupakan harapan bagi tiap-tiap individu yang ingin maju dan terus berkembang dalam mencari keautentikan diri menuju pada titik kesempurnaan. Kata bebas dalam kamus besar bahasa Indonesia bermakna lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa)._ Dalam konteks dan rana pemikiran, terma kebebasan merupakan keharusan yang harus dijunjung tinggi, sehingga tanpa kebebasan, pemikiran hanya akan menjadi sebuah keniscayaan. Qasim Amin dalam al-'Amâl al-Kâmilah menyatakan bahwa kebebasan yang sejati akan menimbulkan berbagai corak pemikiran dan kebangkitan berbagai ragam aliran serta menciptakan suasana sirkulasi atau peredaran pemikiran._ Kebebasan yang berkembang pada akhirnya akan menciptakan pola pikir yang berbeda dalam menyikapi problematika kehidupan. Ibn Rusyd mengkiaskan pemikiran dengan makanan. Makanan bagi sebagian mahluk akan menjadi vitamin dan sumber penguat dalam menjalankan roda aktivitas kehidupan, sementara bagi sebagian lainnya akan menjadi racun yang pada akhirnya menjadi sumber malapetaka dan kelemahan. Lebih lanjut Ibnu Rusyd menyatakan bahwa memaksakan pemikiran sama halnya dengan menjadikan makanan menjadi vitamin bagi semua mahluk dan melarang kebebasan dalam berpikir sama halnya memaksakan diri untuk menyatakan bahwa makanan adalah racun bagi semua mahluk._

Secara garis besar, pemikiran bisa kita kategorikan menjadi dua yaitu; pemikiran yang dilandasi oleh sifat-sifat intrinsik yang ada pada diri manusia dengan dilandasi oleh perasaan dan keinginan yang kuat untuk mengetahui, memiliki dan menguasai. Dan pemikiran yang timbul akibat dorongan, kebutuhan yang datang dari luar diri manusia misalnya kebutuhan sosial dan ekonomi. Pemikiran yang mampu memberikan konstribusi dalam menjawab, memajukan hasrat dan kebutuhan manusia secara benar akan terus berkembang, sementara pemikiran yang tidak mampu menjawab tantangan yang terjadi maka ia akan musnah dengan sendirinya._

Tuntutan akan kebebasan sering kali muncul di tengah-tengah komunitas prural, komunitas yang penuh warna warni. Hal itu karena setiap individu memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menjawab dan menyelesaikan problematika masyarakat yang berkembang. Perbedaan sudut pandang tentunya akan menghasilkan out put yang berbeda pula. Dalam kaca mata kesetaraan gender, terma kebebasan lebih ditempatkan pada tuntutan akan kesejajaran hak antara kaum wanita dan kaum laki-laki. Tuntutan itu muncul didasari oleh keinginan untuk mencari format yang lebih progresif dalam mengusung terma pembaharuan.

Pembaharuan seringkali dinisbatkan pada perubahan yang mengarah pada kemajuan, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Bagi kaum Orientalis, pembaharuan yang terjadi dalam tubuh umat Islam dikategorikan dalam tiga periodeisasi; masa klasik, pertengahan dan modern. Masa klasik (650-1250 M) terbagi menjadi dua fase, pertama; fase ekspansi (650-1000 M), masa-masa integrasi dan punca kemajuan umat Islam. Pada masa tersebut, Islam berkembang luas melalui Afrika Utara sampai ke Spanyol di Barat dan melalui Persia sampai ke India di Timur. Pada fase ini pula muncul beberapa ulama besar yang keberadaannya menjadi referensi bagi ulama selanjutnya. Diantaranya; Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, Imam Ibnu Hambal, Imam al-Asy'ari, Imam al-Maturidi, Wasil bin 'Ata', Abu al-Huzail, al-Nazzam, al-Jubba'i, Zunnun al-Misri, Abu Yazid al-Busthami, al-Hallaj, al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Miskawaih, Ibn al-Haisam, Ibn Hayyan, al-Khawarizmi, al-Mas'udi, dan al-Razi. Fase kedua (1000-1250 M) merupakan fase kemunduran bagi umat Islam terutama dalam bidang politik. Fase ini ditandai dengan runtuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad dan pada akhirnya dikuasai oleh Hulagu pada tahun 1258 M.

Periode Pertengahan (1250-1800 M) juga terbagi dalam dua fase; pertama, masa kemunduran (1250-1500 M). Pada masa ini, umat Islam mengalami disintegrasi dan desentralisasi. Peristiwa itu disebabkan adanya perbedaan antara kaum Sunni dan Syi'ah, serta diperparah oleh perpecahan yang terjadi antara Arab dan Persia. Arab berdiri dengan sekutunya yang terdiri atas Arabiah, Irak, Suriah, Palestina, Mesir dan Afrika Utara dengan Mesir sebagai central. Sementara Persia terdiri atas Balkan, Asia Kecil, Persia dan Asia Tenggara dengan Iran sebagai pusat. Sementara umat Islam di Spanyol dipaksa untuk memeluk agama Kristen atau ke luar dari daerah tersebut. Fase kedua (1500-1800 M) ditandai oleh munculnya tiga kerajaan besar. Fase tersebut dimulai dari masa kemajuan (1500-1700 M) dan masa kemunduran (1700-1800 M). Ketiga kerajaan besar itu antara lain; kerajaan Utsmani (Ottoman Empire) di Turki, kerajaan Safawi di Persia dan kerajaan Mughal di India. Masa kemajuan ketiga kerajaan besar tersebut ditandai dengan maraknya literatur-literatur dan arsitektis yang terpasang indah di gedung-gedung masjid dengan ciri dan corok khasnya. Sementara masa kemunduran pada periode ini ditandai dengan runtuhnya kerajaan Utsmani yang dipukul mundur di Eropa, hancurnya kerajaan Safawi karena serangan-serangan suku bangsa Afghan, dan mengecilnya kekuasaan kerajaan Mughal karena dipaksa tunduk oleh para raja India. Masa tersebut, Islam menjadi agama yang statis.

Periode Modern (1800 M dan seterusnya) merupakan masa kebangkitan umat Islam kembali. Jatuhnya Mesir ketangan Napoleon pada tahun 1798 M menjadikan umat Islam kembali membuka mata bahwa di Barat telah muncul kekuatan-kekuatan baru yang jauh lebih besar daripada kekuatan umat Islam yang tentunya akan menjadi ancaman tersendiri bagi perkembangan umat Islam. Pada masa ini muncullah berbagai aliran dan ide-ide pembaharuan dalam tubuh umat Islam._

Pada dasarnya berbagai perkembangan dan perubahan telah muncul pada masa nabi Muhammad Saw, Islam yang dibawa nabi Muhammad merupakan kelanjutan dari risalah-risalah yang pernah disampaikan oleh nabi-nabi sebelumnya. Kebebasan dan hak asasi manusia telah dijunjung tinggi sejak nabi Muhammad mengikrarkan bahwa tidak ada perbedaan antara kaum Arab dan non Arab, bangsa kulit putih dan kulit hitam, antara kaum borjuis dan proletar kecuali rasa takwa kepada Allah Swt.

Setelah kita membahas tentang fenomena feminisme dalam tinjauan sosial-ekonomi pada pertemuan yang lalu dengan saudari Nurul Fajariyah sebagai presentator, maka pada makalah sederhana ini, penulis akan berusaha mengetengahkan beberapa pandangan umat Islam tentang kebebasan wanita ditinjau dari problematika yang bersifat domestik atau dalam bahasa lain yang bersifat syar'i tanpa harus menafikan tinjauan sejarah yang melatar belakangi adanya penerapan ajaran-ajaran tersebut. Sehingga diharapkan makalah ini akan menjadi pelengkap dari edisi sebelumnya sebagai mata rantai dari silabus yang telah disepakati.

Tinjauan Historis Teologis

Sejarah adalah silsilah, asal usul (keturunan), kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau._ Dengan sejarah, manusia akan mampu membuka tabir kehidupan sebagai pintu awal membangun masa depan yang lebih cerah. Sejarah juga membawa manusia kerana objektifitas dalam melakukan penilaian terhadap fenomena-fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, kajian tentang sejarah merupakan keharusan bagi tiap-tiap individu yang menceburkan dirinya dalam penelitian dan kajian tentang fenomen yang terjadi di masyarakat.

Dalam konteks agama samawi, sejarah tentang kehidupan dan peran wanita telah tertuang dalam kitab Perjanjian Lama yang diyakini sebagai kitab suci bagi kaum Yahudi. Kitab Perjanjian Lama menempatkan wanita sebagai sumber utama dari kesalahan. Hal itu terkisahkan dalam bentuk cerita atau kisah-kisah yangdiyakini kebenarannya. Dikisahkan bahwa Hawa adalah penyebab dikeluarkannya Adam dari surga karena telah merayu Adam untuk ikut serta memakan buah khuldi setelah sebelumnya dia terpesona oleh rayuan iblis. Tidak hanya itu, kitab Perjanjian Lama juga mengisahkan peristiwa antara nabi Luth dan putrinya. Nabi Luth sebagai pembawa risalah dijadikan sampel sebagai laki-laki yang terpesona oleh rayuan wanita, yaitu putrinya. Dikisahkan bahwa nabi Luth melakukan uzlah ke gunung kemudian dia mendiami gua yang terdapat di gunung tersebut. Sebagai seorang anak, putri dari nabi Luth tersebut memberikan pengabdian dengan mengantar bahan makanan kepada ayahnya. Suatu hari, putri nabi Luth tersebut mengajak dan menggoda nabi Luth untuk ikut serta menikmati bir yang dia bawa. Sehingga pada akhirnya mereka terlena dalam kemabukan, kemudian mereka melakukan tindakan amoral yang pada akhirnya menyebabkan putri nabi Luth tersebut menjadi hamil._

Syari'ah Yahudi juga mewajibkan bagi orang yang telah meninggal untuk melimpahkan hak waris kepada anak laki-laki tanpa sedikitpun melibatkan anak wanita. Dalam pasal 419 juga tertulis bahwa harta benda yang dimiliki oleh istri adalah hak atau milik suami secara penuh, sementara sang istri hanya berhak memiliki harta benda yang menjadi mahar dalam pernikahan. Dalam pasal 429 dinyatakan bahwa laki-laki memiliki hak veto untuk menceraikan istri yang dianggap telah melakukan tindakan-tindakan amoral seperti zina dan sebagainya. Sementara dalam pasal 433 tertulis bahwa istri tidak memiliki hak sama sekali untuk meminta cerai walaupun ia telah mengetahui secara nyata bahwa si suami telah melakukan tindakan amoral. Dalam pasal 430 dinyatakan bahwa bagi suami yang tidak mampu memberikan nafkah dari hasil kerja kepada istri selama sepuluh tahun maka wajib untuk menceraikan istrinya dan menikah dengan wanita lain._ Yahudi telah mengklaim wanita sebagai mahluk yang najis sehingga segala hal yang pernah disentuhnya, baik itu berupa manusia, hewan, atau pun makanan menjadi kotor dan najis. Ironisnya, Yahudi menyandarkan segala kesalahan atau perbuatan amoral yang dilakukan oleh laki-laki menjadi tanggungjawab wanita._

Dari beberapa kisah di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa wanita bagi kaum Yahudi tak ubahnya sebagai malapetaka dan alat pemuas kebutuhan biologis bagi laki-laki. Wanita nyaris tidak memiliki peranan penting dalam membangun tatanan kehidupan yang harmonis dan dinamis. Kata kebebasan dan kesetaraan hanya menjadi impian utopis bagi kaum wanita Yahudi.

Sementara kaum Nasrani dengan Perjanjian Baru sebagai kitab suci yang mereka yakini kebenarannya memposisikan wanita sebagaimana Perjanjian Lama. Mereka menyakini bahwa wanita merupakan penyebab utama menjauhnya kaum adam atau laki-laki dari Tuhan. Mereka menetapkan bahwa satu-satunya jalan menuju kedekatan kepada Sang Pencipta adalah dengan menjaukan diri dari wanita. Mereka meyakini bahwa Isa As yang terbunuh dalam keadaan tersalib diutus ke bumi untuk menembus dosa-dosa Adam yang disebabkan oleh Hawa._ Kaum Nasrani juga melarang wanita untuk mengangkat suara di dalam Gereja, karena bagi mereka suara wanita adalah penyebab atau sumber fitnah. Selain itu, Perjanjian Lama juga mensyari'ahkan agar wanita selalu menutupi tubuhnya dengan pakean yang sederhana serta menutupi kepalanya dengan hijab. Mereka kaum Nasrani menyakini bahwa di atas kepala wanita terdapat syetan sehingga bagi wanita Nasrani yang tidak mau menutupi kepalanya harus digundul._ Al-Maududi berpendapat bahwa agama kaum Nasrani telah banyak melakukan penyimpangan dalam menerapkan ajaran syari'ahnya. Wanita telah dijadikan sebagai sumber kesesatan dan menyatakan bahwa kecantikan yang dimiliki seorang wanita merupakan senjata ampuh bagi iblis untuk menyesatkan manusia._

Secara garis besar, perlakuan Nasrani atas kaum wanita tidak jauh berbeda dengan apa yang telah dilakukan oleh umat sebelumnya (baca; Yahudi). Nasrani menjadikan wanita sebagai orang kedua yang ditempatkan di bawah kekuasaan laki-laki.

Islam datang ke Jazirah Arab dengan membawa ajaran-ajaran baru yang cenderung menentang dan memperbaharui tradisi-tradisi masyarakat yang berkembang pada kala itu. Tentu saja tradisi yang bisa diakomodir ke dalam Islam ialah yang sejalan atau tidak bertentangan dengan ajaran dasar Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusiaan. Islam menentang ajaran yang diyakini oleh kaum Yahudi dan Nasrani yang menghegemoni kaum wanita. Islam menjawab bahwa peristiwa keluarnya Adam dan Hawa dari surga adalah atas tipu daya yang dilakukan oleh iblis semata tanpa mencari justifikasi kepada Adam atau Hawa. Hal itu bisa dilihat dari bahasa al-Qur'an yang sama sekali tidak menyebutkan nama Adam atau Hawa, melainkan dengan menggunakan gaya bahasa umum (baca; dhamir humâ)._ Islam menjunjung tinggi egaliter dengan memposisikan wanita sebagai mahluk yang memiliki tempat yang sama di hadapan Tuhan. Imam Mahmud Syaltut berpendapat bahwa Islam memposisikan wanita sebagai mitra bagi kaum laki-laki, sehingga Islam menyamaratakan antara hak dan kewajiban bagi wanita dan laki-laki._ Islam memberikan hak bagi wanita dalam pendidikan, kehidupan, ibadah, dan dalam menyampaikan pendapat._ Muhammad Abduh berpendapat bahwa pengangkatan derajat terhadap kaum wanita dalam tubuh umat Islam belum pernah dilakukan oleh agama-agama samawi sebelumnya. Bahkan ia menyatakan bahwa wanita Eropa yang diklaim memiliki kebebasan dalam menjalankan roda kehidupan masih memiliki batasan-batasan dengan tidak diperkenankan memiliki harta benda tanpa adanya izin dari si suami._

Dari pembahasan sederhana di atas, bisa diambil kesimpulan sementara bahwa Islam datang dengan membawa ajaran baru yang lebih bersifat humanis daripada agama samawi sebelumnya. Islam dengan ajaran-ajaran barunya telah mengislamisasikan tradisi yang ada dan berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Tinjauan Antropologis

Setiap lingkungan memiliki tradisi dan keyakinan yang mengakar di tengah-tengah masyarakat. Tradisi dan keyakinan tersebut dibentuk berdasarkan keinginan dan kebutuhan masyarakat setempat. Oleh karena itu, kajian tentang antropologi merupakan keharusan dalam menilai sejarah secara objektif. Maka tidak lengkap kiranya jika kajian tentang wanita tanpa dilengkapi dengan kajian antropologis yang melatar belakangi adanya pengekangan dan tuntutan kebebasan wanita.

Arab pada abad ke-VI M masih berupa jazirah yang berada di kawasan Timur Tengah. Masyarkat yang berdomisili masih bersifat nomaden. Hal itu dikarenakan kebutuhan akan bahan makanan dan minuman yang menjadi kebutuhan pokok dalam melangsungkan kehidupan, sehingga apabila persediaan makanan telah habis maka mereka harus mencari tempat lain yang masih menyediakan kebutuhan bahan pokok tersebut. Kehidupan nomaden menjadikan watak dan sifat bangsa Arab keras dan kasar. Suasana itulah yang pada akhirnya menjadikan orang-orang Arab lebih bangga memiliki anak laki-laki dari pada wanita. Hak waris hanya diberikan kepada laki-laki, sementara wanita hanya menerima caci-maki yang tidak manusiawi._

Di Mesir, wanita memiliki penghormatan yang luar biasa. Wanita memiliki hak veto dalam memimpin pasukan. Kisah Cleopatra, Arlena Cawis, Nefertiti, menjadi bukti sejarah bahwa wanita di Mesir memiliki kekuatan dan kemampuan untuk memimpin pasukan atau kerajaan._ Tercatat dalam sejarah, peristiwa Fir'aun dan bala tentaranya yang tenggelam ketika melakukan pengejaran terhadap nabi Musa. Peristiwa itu menyebabkan keberadaan wanita Mesir lebih banyak dibanding laki-laki sehingga pada waktu itu laki-laki memanggil kaum wanita dengan sebutan sitti (sayyidatĩ). Bahkan wanita diagungkan dengan menyembah kepadanya._ Namun pada masa Turki Utsmani, kebebasan terhadap wanita telah mengalami pengurangan dan pengekangan. Pada masa itu pula muncul berbagai aliran yang menghendaki adanya kebangkitan wanita kembali. Abad XIX merupakan awal bangkitnya kembali wanita Mesir. Diantara para pembaharu yang menghendaki kebangkitan kembali wanita Mesir antara lain; Rifâ' al-Thahtâwiy dalam bukunya talkhĩsh al-ibrĩz ilâ talkhĩsh bâriz (1834). Dalam buku ini al-Thahtâwiy menuliskan tentang perjalanannya ke Paris dan pada masa-masa berdomisili di sana dalam rangka mencari ilmu pengetahuan. Namun yang paling urgen dari kitab ini adalah pemaparan dia tentang kemajuan dan gaya hidup masyarakat Perancis. Di dalamnya terangkum tentang sistem pemerintahan Perancis, sistem penanganan kesehatan, sistem penerapan hukum atau konstitusional dan sistem pendidikan serta adat-istiadat bangsa Eropa. Kemudian buku manâhij al-albâb al-misriyyah fĩ manâhij al-adab al-Ashriyyah (1870), di dalamnya tertulis arti pentingnya perekonomian masyarakat. Al-thahtâwiy berpendapat bahwa majunya sebuah bangsa bisa ditempuh dengan dua hal yaitu dengan berpegang teguh pada ajaran agama dan perbaikan ekonomi. Kemudia di dalam buku al-mursyid al-amĩn li al-banât wa al-banĩn (1872), al-Thahtâwiy menerangkan bahwa pendidikan harus bersifat universal dengan tidak membedakan antara golongan laki-laki dan wanita. Kaum ibu harus memiliki pendidikan yang sama sehingga diharapkan kaum ibu bisa menemani suami dalam kehidupan intelektual dan dapat mendidik anak-anaknya yang diharapkan dikemudian hari akan menjadi aset bangsa. Selain al-Thahtâwiy, Mesir juga memiliki Ali Mubârak yang dengan gigih memperjuangkan dan menyuarakan kebebasan wanita pada tahun 1823-1893 M._ Muhammad Abduh berpendapat bahwa kaum wanita dalam Islam sebenarnya memiliki kedudukan yang tinggi, namun karena pengaruh adat-istiadat masyarakat yang berkembang, akhirnya wanita memiliki nilai rendah di mata masyarakat._ Kemudian pada perkembangan selanjutnya, kebebasan wanita yang disuarakan lebih banyak mengarah pada tuntutan akan hak pendidikan, ekonomi dan politik.

Sementara di Eropa, wanita diperlakukan sebagai mahluk kedua setelah laki-laki. Wanita tidak memiliki hak pendidikan, ekonomi dan politik sebagaimana laki-laki. Di Inggris, wanita dilarang membaca kita suci Perjanjian Lama, hal itu karena dipengaruhi oleh kekuatan Gereja yang menempatkan wanita sebagai sumber kesalahan dan kesesatan. Di Perancis, wanita baru diberi haknya dalam bidang pendidikan pada tahun 1892 walaupun sebelumnya pada tahun 1875 telah ada seorang wanita yang meraih gelar doktor di bidang kedokteran._ Berbeda dengan sumber di atas, Ahmad Amin menulis bahwa wanita Barat lebih maju daripada wanita Timur, hal itu karena wanita Barat memiliki kebudayaan jauh lebih luas. Wanita Barat menerapkan metodologi ilmiah dalam mendidik dan mengajar anak-anaknya, sementara wanita Timur lebih mengedepankan metodologi hayalan (baca; khurâfat). Wanita Barat memiliki keberanian dan keteguhan dalam menuntut dan menjalankan hak-haknya, sementara wanita Timur hanya menunggu dan tidak mau tahu tentang hak-haknya. Sehingga wanita Timur selalu hidup dalam kekangan laki-laki. _

Tinjauan Teoritis

Berbagai sumber menyebutkan bahwa salah satu penyebab adanya dikotomi antara wanita dan laki-laki karena disebabkan oleh fungsi organ tubuh dan kebutuhan biologis yang tidak sama sejak mereka diciptakan. Masalah biologis, pisikologis, struktur sosial dan sebagainya merupakan tema besar yang sering kali diusung dalam isu-isu feminisme, gender atau kebebasan wanita.

Manusia adalah mahluk biologis yang memiliki keistimewaan lebih dari pada mahluk lainnya. Keistimewaan itulah yang menjadikan manusia terutus sebagai khalifah di muka bumi. Bagi sebagian ilmuan menyatakan bahwa perbedaan unsur-unsur biologis yang terdapat pada tubuh laki-laki dan wanita akan berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional dan keintelektualan. Secara garis besar perbedaan laki-laki dan wanita secara emosional bisa digambarkan sebagai berikut:
Laki-laki
Wanita

- Sangat Agresif
- Independen
- Tidak emosional
- Dapat menyembunyikan emosi
- Lebih Objektif
- Tidak mudah terpengaruh
- Tidak submisif
- Sangat menyukai pengetahuan eksakta
- Tidak mudah goyang terhadap krisis
- Lebih aktif
- Lebih kompetitif
- Lebih logis
- Lebih mendunia
- Lebih terampil berbisnis
- Lebih berterus-terang
-Memahami seluk beluk perkembangan dunia
- Berperasaan tidak mudah tersinggung
- Lebih suka bertualang
- Mudah mengatasi persoalan
- Jarang menangis
-Umumnya selalu tampil sebagai pemimpin
- Penuh rasa percaya diri
- Lebih banyak mendukung sikap agresif
- Lebih ambisi
- Lebih mudah membedakan antara rasa dan rasio
- Lebih merdeka
- Tidak canggung dalam penampilan
- Pemikiran lebih unggul
- Lebih bebas berbicara

- Tidak terlalu agresif
- Tidak telalu independen
- Lebih emosional
- Sulit menyembunyikan emosi
- Lebih subjektif
- Mudah terpengaruh
- Lebih submisif
- Kurang menyenangi eksakta
- Mudah goyang menghadapi krisis
- Lebih pasif
- Kurang kompetitif
- Kurang logis
- Berorientasi ke rumah
- Kurang terampil berbisnis
- Kurang berterus-terang
-Kurang memahami seluk-beluk perkembangan dunia
- Berperasaan mudah tersinggung
- Tidak suka bertualang
- Sulit mengatasi persoalan
- Lebih sering menangis
- Tidak umum tampil sebagai pemimpin
- Kurang rasa percaya diri
- Kurang senang terhadap sikap agresif
- Kurang ambisi
- Sulit membedakan antara rasa dan rasio
- Kurang merdeka
- Lebih canggung dalam penampilan
- Pemikiran kurang unggul
- Kurang bebas berbicara_

Menurut Sigmund Freud, kenyataan seorang laki-laki mempunyai alat kelamin menonjol yang tidak dimiliki perempuan menimbulkan masalah kecemburuan alat kelamin yang mempunyai implikasi lebih jauh; anak laki-laki merasa superior dan anak perempuan merasa inferior._

Agust Comte (1798-1857 M) yang menyamakan antara teori sosiologi dan biologi menyatakan dengan teori fungsionalismenya bahwa kesatuan dalam masyarakat hanya akan terbentuk ketika elemen-elemen biologis dan sosial yang terdapat pada tubuh organik telah solid. Herbert Spencer (1820-1930 M) yang menjadi penerus teori Comte berusaha membedakan antara konsep "struktur" dan konsep "fungsi" yang terdapat pada organisme masyarakat dan organisme individu. Ia menyatakan;
"Apabila sebuah organisasi terdiri dari serangkaian konstruksi yang menyatu di mana setiap bagian hanya dapat berfungsi melalui cara saling ketergantungan antara satu sama lainnya, maka pemisahan salah satu bagian dari kesatuan organisasinya akan menyebabkan berubahnya fungsi dari bagian-bagian lain secara kelesuruhan"
Sementara Emile Durkheim (1858-1917 M) menyatakan bahwa kelangsungan hidup dalam masyarakat hanya akan bisa diperoleh ketika para elemen masyarakat telah memiliki kesadaran dalam pembagian tugas atau kerja (division of labor)._

Dari pembahasan sederhana di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa Adanya perbedaan biologis antara laki-laki dan wanita nyaris tidak mendapatkan pertentangan, namun yang menjadi perselisihan adalah pengaruh atau efek dari perbedaan biologis itu dalam penyikapan perilaku manusia.

Studi Kasus tentang Poligami

Manusia termasuk mahluk yang tercipta berpasang-pasangan sebagaimana mahluk-mahluk lainnya. Keberpasangan merupakan sunnatullah yang telah terjadi sepanjang masa. Dalam konteks syari'ah, istilah keberpasangan lebih dikenal dengan istilah pernikahan (al-zawâj). As'ad al-Samrâniy berpendapat bahwa makna kalimat min nafsin wâhid memiliki makna kebersatuan antara laki-laki dan wanita dalam lingkaran pernikahan, dengan kata lain bersama dalam membangun rumah tangga._ Qasim Amien seorang ahli hukum yang menempuh pendidikan di Perancis dan memiliki kedekatan kepada Muhammad Abduh mengkritik beberapa fuqaha yang hanya memandang bahwa pernikahan bertujuan untuk kesenangan, pengekangan terhadap wanita dan pemenuhan kebutuhan biologis semata. Bagi Qasim Amein pengertian itu hanya akan menurunkan derajat ajaran al-Qur'an yang secara nyata menyatakan bahwa tujuan dari pernikahan atau keberpasangan adalah untuk menciptakan kasih sayang dan ketenangan. Kasih sayang akan didapat ketika kedua pasangan saling menerima satu sama lainnya, saling mengerti, saling memahami dan saling menghormati._ al-Thahtâwiy mengutarakan bahwa pernikahan merupakan peristiwa bersatunya dua insan yang berbeda berdasarkan ajaran-ajaran syari'ah dengan tujuan menciptakan keturunan. Al-thahtâwiy mengamini hadis nabi yang mengatakan bahwa keluarga tanpa adanya keturunan tidak akan mendatangkan berkah dari Allah. Hadis itu muncul dan berkembang karena masyarakat Arab waktu itu merasa takut terhadap kemiskinan jika harus melahirkan keturunan._ Pernikahan adalah awal dari proses terciptanya tatanan kehidupan keluarga. Keluarga adalah asas utama terbentuknya masyarakat dan umat. Eksistensi masyarakat secara luas ditentukan oleh mapan tidaknya tatanan kehidupan keluarga._ Secara tidak langsung, kepandaian dan kelihayan seorang wanita yang menjadi pendidik utama dalam keluarga akan menjadi ujung tombak bagi terbentuknya bibit-bibit bangsa. Dalam pernikahan kita akan mengenal beberapa istilah diantaranya poligami, talak, hak waris dan sebagainya.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata poligami memiliki arti; sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan._ Tradisi poligami telah ada sejak jaman Yunani kuno. Pada jaman itu, peran wanita hanya sebagai pemuas nafsu laki-laki dan sebagai pelayan. Berbagai peristiwa peperangan yang terjadi sejak tahun 415 SM telah menjadikan poligami sebagai kebutuhan yang terlegalisasikan oleh hukum negara. Socrate termasuk filosof Yunani yang menganjurkan poligami, karena ia melihat banyaknya wanita yang hidup tanpa pasangan karena disebabkan oleh banyaknya peperangan yang terjadi._

Ajaran Yahudi ikut serta melegitimasi poligami dalam kitab sucinya. Kitab Perjanjian Lama mengajarkan bahwa nabi Ibrahim As menikah dengan Sârah, Hâjar, Qathûrah. Nabi Daud disebut sebagai nabi yang memiliki banyak istri, sementara nabi Sulaiman dikatakan memiliki 200 istri. Hal itu terkisahkan karena ajaran mereka mengatakan jika seorang istri ditinggal mati oleh suaminya maka secara otomatis dia menjadi milik dari salah-satu saudara si suami._

Jazirah Arab sebelum kedatangan Islam telah mengenal istilah pernikahan, poligami, dan sebagainya. Pernikahan di masa Jahiliyah memiliki empat tipe, diantaranya, pernikahan yang kita kenal saat ini atau yang lazim terjadi di tengah-tengah masyarakat, kemudian pernikahan yang bersifat poligami. Poligami yang diterapkan pada waktu itu disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang sifatnya nomaden, dalam bahasa lain, bahwa kaum laki-laki di masa Jahiliyah seringkali menikahi wanita-wanita setempat yang pernah menjadi tempat singgahan. Namun orang-orang Arab masih menasabkan keturunannya kepada pihak keluarga ibu. Penasaban itu tidak bermakna bahwa wanita memiliki hak dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Robertson Smith menulis bahwa penasaban keturunan orang Arab pada pihak ibu terus berlanjut sampai Islam datang dengan ajaran baru yaitu dengan menasabkan keturunan kepada pihak ayah. Sementara Montgomery Watt menulis bahwa tradisi poligami di jazirah Arab telah ada sejak sebelum datangnya Islam. Islam datang dengan memperjuangkan kebebasan wanita, hal itu tercatat dalam sejarah bagaimana kedua istri nabi Muhammad Saw, Khatijah dan Aisyah menjadi jargon bagi kebebasan kaum wanita Arab. Khatijah sebagai istri nabi Muhammad yang pertama merupakan contoh seorang wanita Jahiliyah yang mampu menjalankan roda kehidupan ekonomi, dan memberikan kekuatan pendorong bagi perjuangan sang suami. Kehidupan rumah tangga nabi Muhammad dan Khatijah masih belum menunjukkan adanya syari'ah-syari'ah Islam dalam hal membangun rumah tangga akan tetapi lebih didominasi oleh tradisi jahiliyah. Hal itu karena nabi Muhammad baru menerima wahyu setelah kurang lebih lima belas tahun menikah dengan Khatijah. Pada waktu itu usia nabi Muhammad mencapai empat puluh tahun sementara Khatijah telah berusia lima puluh tahunan. Aisyah adalah istri nabi Muhammad yang kepadanya turun berbagai perintah tentang hal-hal yang berkaitan dengan wanita seperti; hijab dan sebagainya._

Secara garis besar, pembahasan poligami dalam Islam bisa dipetakan pada dua sudut pandang yaitu kajian teologis dan sosio-masyarakat. Mahmud Syaltut mengetengahkan pembahasan tentang poligami dalam Islam dengan dua sudut pandang yang bersamaan. Ia melakukan kajian teologis dengan memaparkan adanya komparasi dalam surat al-Nisa' ayat 3 dan ayat 129. Komparasi itu diungkapkan sebagai bukti bahwa ajaran poligami dalam Islam tidak bersifat anjuran akan tetapi lebih mengarah pada larangan, hal itu karena al-Qur'an sendiri telah menegaskan bahwa tidak akan ada satupun yang mampu berlaku adil diantara wanita-wanitanya. Yang menarik dari pembahasan Mahmud Syaltut adalah bagaimana dia mampu menjawab dan mengkritisi pendapat-pendapat ulama terdahulu. Bahkan Mahmud Syaltut mengutip dan mengkritik pendapat al-Ghazali tentang poligami, bagi dia, seorang al-Ghazali masih terbawa pada fatwa-fatwa ulama terdahulu dengan menjadikan poligami sebagai anjuran, dilihat dari kebutuhan seksual sebagian laki-laki yang tidak mungkin terpenuhi hanya dengan satu orang istri. Sementara kajian sosial-antropologis yang dikedepankan Mahmud Syaltut adalah kemaslahatan masyarakat. Bagi dia poligami merupakan keresahan bagi golongan wanita sehingga akan merusak tatanan rumah tangga yang pada akhirnya akan berdampak pada tatanan masyarakat yang lebih luas._

Syeh Ali Jum'ah memaparkan bahwa ajaran Islam tentang poligami diiringi dengan batasan jumlah. Hal itu bisa dilihat dalam sejarah bagaimana nabi Muhammad memerintah para sahabat untuk memilih empat orang dari istri-istrinya dan memerintahkan untuk menceraikan selebihnya. Islam juga memberikan persyaratan khusus dalam praktek poligami. Menurut Ali Jum'ah, tujuan utama dari poligami dalam Islam adalah untuk membebaskan para yatim piatu dan janda-janda. Lebih jelas dia menjelaskan tentang pentingnya sikap adil dalam menjalankan ajaran poligami._

Muhammad Abduh berfatwa bahwa syarat diperbolehkannya poligami adalah sifat dan sikap adil. Bagi Abduh, aturan poligami tersebut tidak hanya terbatas bagi orang-orang Timur, akan tetapi bagi orang Barat juga. Apabila seorang laki-laki tidak mampu bersifat adil maka dianjurkan untuk tidak melakukan praktek poligami, karena hal itu akan merusak tatanan rumah tangga yang telah mapan. Sehingga perintah poligami bukan berupa perintah yang bersifat anjuran akan tetapi perintah yang bersifat dibenci. Lebih lanjut Abduh menyatakan bahwa salah satu sebab diperbolehkannya poligami adalah karena jumlah wanita melebihi kuota laki-laki, hal itu dikarenakan adanya berbagai rangkaian peperangan. Kemudian Abduh menolak para pemikir Barat yang menyatakan bahwa ajaran poligami dalam Islam adalah hasil adobsi dari tradisi Jahiliyah. Islam menganjurkan poligami dengan tujuan kemaslahatan sehingga poligami dalam Islam masih dalam pembatasan (baca; empat). Berbeda dengan tradisi Jahiliyah yang menerapkan aturan poligami tanpa batas. Poligami dalam Islam juga bertujuan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, yaitu pembebasan para wanita dari derita kemiskinan. Abduh juga menentang aturan perbudakan dalam penerapan ajaran poligami. Karena bagi Abduh, sistem perbudakan dalam Islam telah usai seiring dengan perkembangan dan kemajuan jaman. Terakhir Abduh menyarankan kepada para hakim untuk melarang poligami kepada laki-laki yang dianggap tidak mampu berlaku dan bersifat adil, karena hal itu akan merendahkan martabat wanita dan menghancurkan masa depan keturunannya._ Secara garis besar, pemikiran Muhammad Abduh lebih diilhami oleh ayat suci al-Qur'an. Abduh menjadikan al-Qur'an sebagai landasan awal dalam memaparkan pemikirannya.

Berbeda dengan Abduh, Qasim Amin lebih mendahulukan kajian sosio-masyarakat dalam memaparkan pendapat tentang poligami. Bagi Qasim Amin poligami hanya akan merusak tatanan keluraga yang pada akhirnya akan berdampak pada tatanan masyarakat luas. Qasim Amin mengungkapkan bahwa tidak ada satu wanita pun yang akan rela ketika dia melihat suaminya berduaan atau menjalin kasih dengan wanita lain sebagaimana laki-laki tidak akan pernah rela jika melihat istrinya memadu kasih dengan laki-laki lain. Lebih lantang Qasim Amin menjelaskan bahwa poligami merupakan pelecehan paling besar terhadap kaum wanita, hal itu karena poligami hanya akan menyisakan kesengsaraan, kecemasan dan kesedihan bagi kaum wanita. Qasim Amin juga menentang secara keras ungkapan fuqaha yang menafsirkan makna adil dengan sikap adil dalam membagi harta tanpa sikap adil dalam kasih sayang. Jika demikian adanya, maka Qasim Amin menganggap interpretasi itu hanya memposisikan wanita tak ubahnya binatang peliharaan. Qasim Amin juga menjelaskan bahwa tidak ada satupun laki-laki yang mampu berbuat adil kepada para wanitanya, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur'an, sehingga dia menolak adanya poligami dalam konteks sikap adil. Namun lebih lanjut Qasim Amin menjelaskan, bahwa ia sependapat dengan poligami apabila si istri memiliki penyakit yang tidak bisa memberikan keturunan kepada si suami. Jika tidak ditemukan celah itu, maka Qasim Amin menganjurkan kepada hakim sebagimana Muhammad Abduh untuk melarang kaum laki-laki melakukan praktek poligami. Hal itu demi kemaslahatan rumah tangga secara khusus dan kemaslahatan umat secara umum._

Berbeda dengan Muhammad Abduh dan Qasim Amin, Ahmad Luthfi al-Sayyid yang menjunjung tinggi demokrasisasi di Mesir, diklaim oleh para rival atau pesaingnya sebagai pemikir yang menghendaki adanya demokrasisasi dalam pernikahan. Sehingga dikatakan bahwa Ahmad Luthi al-Sayyid mendukung adanya poligami dan poliandri!_

Studi Kasus tentang Penceraian

Keseimbangan merupakan kunci utama dalam membangun kesinambungan. Keseimbangan hanya bisa diperoleh ketika dua unsur yang berbeda saling memberi dan menerima dalam porsi yang sama. Salah satu tujuan dari dianjurkannya ajaran pernikahan adalah untuk menyeibangkan dua insan yang berbeda. Dalam pernikahan, sang istri diharpkan menjadi penyeimbang atau dalam kata lain mitra bagi sang suami. Untuk itu, seorang istri harus mampu menyeimbangi keintelektualan dan kebutuhan yang diinginkan oleh suami sebagimana sang suami juga harus memanjakan sang istri. Di sinilah salah satu penyebab dasar digemborkannya emansipasi wanita oleh al-Thathâwiy, Muhammad Abduh, Qasim Amin dan sebagainya.

Dalam perjalanan tentu rintangan pasti akan datang menghadang, cobaan pasti datang menghujat. Hanya sebuah keyakinan dan tekat bulat yang akan menjadikan manusia mengerti akan arti kehidupan. Begitu juga dalam kehidupan rumaha tangga, berbagai bentuk problematika kehidupan selalu hadir dan memaksa untuk melakukan tindakan-tindakan yang pada akhirnya mengarah pada penceraian. Al-thalâq, bergitu orang Arab memberikan istilah pada kata penceraian. Al-thalâq merupakan kata serapan asing yang dalam kamus besar bahasa Indonesia tertulis dengan kata talak. Talak memilik arti penceraian dalam hukum Islam antara suami istri atas kehendak suami._

Sebelum penulis membahas lebih jauh tentang talak, penulis akan mengetengahkan beberapa hak dan kewajiban yang harus dipenuhi dalam rumah tangga. Hal ini sangat urgen untuk menentukan apakah bahtera rumah tangga akan berakhir dengan kata talak atau tidak! Diantara kewajiban seorang istri adalah memelihara harta benda rumah tangga sebagimana kewajiban suami untuk mengadakan harta tersebut. Diriwayatkan, apabila seorang istri menginfakkan hartanya maka dia akan menerima pahala dari harta infak, sementara suami akan mendapatkan pahala dari jerih payah dalam mendapatkan harta tersebut. Istri berkewajiban menjaga pergaulan dengan tidak keluar rumah tanpa seizin suami sementara kewajiban suami adalah memenuhi segala kebutuhan istri dan dengan memperlakukan istri sebaik mungkin._

Kemaslahatan dalam rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama antara istri dan suami. Rasa saling pengertian, perhatian, saling memaafkan, kesabaran dan kasih sayang harus terus dipupuk dan disiram. Paling tidak istri dan suami mampu membangun keseimbangan dalam menjalankan kewajiban dan memperoleh hak. Hal itu akan dicapai dengan rasa adil dan kesabaran. Tanpa itu semua, mustahil keharmonisan keluarga akan terbentuk. Ketika keharmonisan rumah tangga telah hilang, maka jalan satu-satunya adalah talak. Pada dasarnya talak muncul seiring dengan kebutuhan manusia akan pernikahan.

Secara teologis, talak telak diterapkan dalam kitab suci Taurat. Kaum Yahudi memperkenankan adanya talak jika terdapat dua celah pada diri si istri. Pertama; cacat fisik, seperti; penglihat buram, juling, bau mulut yang tidak menyenangkan, bongkok, pincang dan mandul. Kedua; cacat akhlak, seperti; tidak memiliki rasa malu, kotor, banyak bicara, mudah emosi, durhaka, berlebih-lebihan, tamak, rakus, dan gemar dengan makanan-makanan serta sifat sombom. Apabila suami menemukan salah-satu dari celah tersebut di atas, maka ia berhak untuk menceraikan istrinya. Sementara apabila istri menemukan salah-satu celah tersebut pada diri suami, maka ia tidak berhak untuk menjatuhkan talak atau meminta untuk di talak. Perzinaan adalah penyebab utama diperkenankannya suami menceraikan istrinya._

Selain di atas, kaum Yahudi juga memerintah tiap-tiap suami untuk menceraikan istrinya dan menikah dengan wanita lain apabila dalam jangka waktu sepuluh tahun dia masih belum memiliki penghasilan. Ajaran Yahudi juga menjatuhkan hukum talak bagi suami yang berniat menceraikan istrinya walau tanpa mengungkapkan niat itu _ Bagi laki-laki Yahudi yang merasa tidak mendapatkan kenikmatan dari istri-istrinya diwajibkan untuk bercerai dan memerintah si istri menikah dengan laki-laki lain. Tanpa ada kesempatan sekali lagi untuk kembali kepangkuan suami pertama.

Sementara perintah talak dalam syari'ah Nasrani jauh lebih manusiawi dibanding ajaran-ajaran sebelumnya. Nasrani menetapkan barang siapa menceraikan istrinya tanpa alasan istrinya telah melakukan perzinaan, maka ia telah terjerumus pada perzinaan. Dan barang siapa yang menikah dengan wanita yang telah diceraikan oleh suami sebelumnya, maka ia juga telah terjerumus dalam lembah perzinaan. Demikian tertuang dalam Ijin yang mengisahkan Isa As ketika ditanya tentang talak._ Kalau dikaji sekilas, perintah itu terkesan bersifat larangan terhadap talak.

Berbeda dengan ajaran sebelumnya, Islam menjadikan talak sebagai solusi paling akhir dalam menjaga kemaslahatan rumah tangga. Talak adalah perintah yang sifatnya dibenci untuk tidak mengatakan dilarang._ Islam memberikan aturan-aturan khusus yang harus dijalankan sebelum melakukan penceraian. Diantara aturan tersebut yaitu; pertama, apabila mempelai merasakan ketidakcocokan, aturan yang diberiakan oleh Islam adalah dengan melakukan intropeksi diri dengan keyakinan bahwa sesuatu yang dianggap jelek bisa jadi memiliki hikmah dan berkah di dalamnya. Jika cara pertama masih belum mampu menyatukan kedua mempelai kembali, maka yang kedua, Islam mengajarkan agar mempelai berdialektika tentang talak tanpa didasari niat atau keinginan kuat untuk melakukannya._ Jika masih belum cukup menyelesaikan masalah, Islam memerintahkan untuk berpisah ranjang atau tempat tidur. Apabila hal itu masih belum mampu membangun keharmonisan, dan kedua mempelai, suami dan istri merasa khawatir atau takut akan terjadi perpecahan maka aturan yang harus dipenuhi adalah dengan memanggil penengah (hakim) dari kedua belah pihak._ Kalaupun masih belum menemukan kata sepakat, Islam menganjurkan untuk melakukan talak dengan masa tenggang empat puluh hari. Talak dalam Islam berlaku sebanyak dua kali, jika sampai tiga kali maka Islam mensyari'ahkan untuk tidak menyatukan kedua pasangan kembali kecuali telah dinikahi oleh laki-laki lain._ Islam juga memberikan kesempatan bagi wanita yang merasa tidak mendapatkan hak-nya untuk mengajukan talak, dengan syarat membayar uang tebusan atau dalam istilah fikihnya disebut al-khul'._ Islam memberikan aturan-aturan yang begitu sulit dan berlapis-lapis, hal itu mengisaratkan bahwa talak dalam Islam bukan perintah yang mudah dilakukan dan bukan merupakan perintah yang dianjurkan. Karena talak akan berdampak pada perkembangan dan kemaslahatan masyarakat secara umum.

Muhammad Abduh melihat bahwa talak akan berdampak pada kerusakan tatanan rumah tangga yang pada akhirnya akan berpengaruh besar terhadap dinamika dan kemaslahatan masyarakat. Oleh karena itu, Muhammad Abduh menempatkan aturan baru dengan memberikan hak penceraian hanya kepada hakim setempat. Dengan tujuan agar tidak ada pelecehan dalam keluarga yang menyebabkan kekerasan dan berakhir pada penceraian. Aturan-aturan itu antara lain; pertama, apabila suami menginginkan perceraian, maka ia harus mengajukan penceraian ke hakim dan menjelaskan sebab-sebab ketidakcocokan atau perpecahan yang terjadi. Kedua, setelah mendengarkan keluh-kesah suami, maka hakim wajib memberikan nasehat kepada keduanya sesuai dengan ajaran al-Qur'an dan Hadis yang mengarah pada pernyataan bahwa talak adalah perihal yang dibenci oleh agama. Setelah itu, hakim harus memberikan jedah waktu kepada mempelai untuk berpikir lebih lanjut selama kurang lebih satu minggu. Ketiga, apabila si suami masih bertekat untuk melakukan talak, maka tugas selanjutnya bagi hakim adalah memanggil wali dari kedua mempelai dan mempertemukannya. Keempat, apabila masih belum menemukan titik temu untuk membangun kembali rumah tangga, maka tugas hakim selanjutnya adalah mengizinkan penceraian tersebut. Kelima, penceraian atau talak dinyatakan tidak syah jika tidak dilakukan di depan hakim dan disaksikan oleh minimal dua orang saksi serta harus dalam keadaan tertulis dalam bentuk akte cerai yang resmi. Muhammad Abduh menjelaskan bahwa tugas pembentukan hakim adalah tugas negara dan umat Islam secara keseluruhan. Hal itu untuk menjaga kemaslahatan generasi masa depan, keluarga dan masyarakat secara umum._

Qasim Amin melihat bahwa talak pada dasarnya bersifat larangan, namun diperkenankan apabila dalam keadaan darurat. Pendapat tersebut, diilhami dari beberapa ayat al-Qur'an diantaranya surat al-Nisâ' ayat 19, ayat 35 dan ayat 128. Ditambah dengan hadis nabi yang mengatakan bahwa talak adalah perbuatan yang halal namun dibenci oleh Allah, serta perkataan Ali bin Abi Thalib "menikahlah kamu dan janganlah bercerai karena itu akan merusak tatanan". Qasim Amin juga mengankat perihal perbedaan ulama fikih tentang hukum talak. Secara garis besar Qasim Amin mengelompokkan pokok persoalan talak menjadi tiga bagian. Pertama, pendapat madzhab Hanafiyah yang menyepakati adanya talak tanpa didasari oleh niat. Pendapat ini dikritik oleh Qasim Amin karena secara langsung bertentangan dengan ajaran agama Islam tentang makna dan fungsi niat. Kedua, kelompok ahli fikih yang membagi talak menjadi dua, pertama, talak dengan jelas (sharĩh) dan kedua talak secara samar (kinâyah). Talak secara jelas dihukumi sebanyak satu kali dan memungkinkan untuk kembali lagi, sementara talak yang tidak jelas dihukumi sebagai talak tiga kali dan tidak diperkenankan untuk kembali lagi kecuali setelah dinikahi oleh orang lain. Sementara madzhab Syafi'iyah berpendapat bahwa talak yang samar dihukumi sebagai satu kali talak dan memungkinkan untuk kembali. Ketiga, golongan yang secara umum menyepakati bahwa batasan talak sampai tiga terkecuali dalam masa haid, namun mereka masih berpeda pendapat dalam memahami kata "talak tiga". Qasim Amin berbeda pendapat dengan para fuqaha yang lebih menitik beratkan pada persoalan bahasa. Qasim Amin menegaskan bahwa makna dari talak adalah keinginan mempelai untuk memutuskan tali pernikahan karena berbagai alasan dan pertimbangan, sehingga talak tidak bermakna mengucapkan kata yang terdiri dari beberapa huruf sebagaimana dipersoalkan oleh para ahli fikih. Qasim Amin menyayangkan tindakan para ahli fikih yang hanya berputar pada lingkaran bahasan bahasa tanpa melihat lebih jauh tentang sejarah dan sebab-sebab dibolehkannya talak. Qasim Amin menjelaskan, kita sekarang hidup dimasa beribu-ribu laki-laki dan beribu-ribu talak. Seolah-olah kaum laki-laki memiliki kekuatan penuh untuk mempermainkan istrinya dengan ajaran talak. Oleh karena itu, Qasim Amin mengamini pendapat Muhammad Abduh dengan aturan-aturan tentang diperbolehkannya talak._

Studi Kasus tentang Hak Waris dan Kesaksian Wanita

Kehidupan bagaikan jarum jam yang selalu berputar, perputaran yang memiliki keterkaitan antara satu titik dengan titik yang lain. Begitu juga alam raya, ia tercipta dalam keterikatan antara satu unsur dengan unsur lainya. Hagel dengan teori ketergantungannya mengatakan bahwa tidak ada satu unsurpun yang mampu berdiri dengan sendirinya. Ia mengkiaskan bahwa angka satu bisa ada karena sebelumnya ada angka nol begitu juga seterusnya.

Tujuan dari terbentuknya keluarga adalah karena teori ketergantungan dan keterikan itu. Istri diwajibkan memberikan hak-hak suami sebagaimana suami juga diwajibkan menjalankan kewajibanya memenuhi hak-hak istri. Perhatian dan pengertian merupakan kunci utama menuju keharmonisan keluarga. Untuk itu, setiap individu dalam keluarga memiliki kesamaan dalam hak dan kewajiban sesuai dengan fitrah masing-masing!

Hak waris merupakan salah-satu problematika keluarga yang sampai saat ini masih menjadi perhatian khusus para pemerhati gender, hak asasi manusia dan sebagainya. Kata waris memiliki makna orang yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah meninggal._ Secara teologis, ajaran Yahudi melarang wanita atau istri untuk memiliki harta benda yang dimiliki oleh suami, hal itu sebagai rentetan dari pelecehan atas kaum wanita. Dalam kitab Perjanjian Lama tertulis bahwa tiga golongan yang tidak berhak memiliki harta benda yaitu; istri, anak dan budak._ Arab Jahiliyah menetapkan bahwa wanita tidak berhak untuk menerima harta warisan dari suami, bahkan wanita tidak berhak memiliki harta suami kecuali harta rampasan perang. Di Perancis pada awal abad ke-XIX setelah revolusi Perancis, wanita masih belum diberi hak untuk mendapatkan atau memiliki harta benda yang dimiliki oleh suami tanpa seizin dan restu dari suami._

Pada masa saat ini, banyak pemerhati kajian keislaman yang menyatakan bahwa agama Islam menempatkan hak asasi kaum wanita lebih rendah daripada kaum laki-laki. Hal itu dilihat dari aturan yang diterapkan dalam Islam tentang pembagian harta warisan dan kesaksian wanita. Mereka melandaskan pendapatnya pada ayat al-Qur'an surat al-Nisâ' ayat 11 tentang hak waris dan surat al-Baqarah ayat 282 tentang kedudukan wanita sebagai saksi. Mahmud Syaltut menjawab bahwa persoalan hak waris dalam Islam bukan dititik beratkan pada persoalan hak asasi manusia yang harus rata antara laki-laki dan wanita, akan tetapi lebih melihat pada aspek kebutuhan dan tanggungjawab laki-laki yang jauh lebih banyak daripada wanita. Laki-laki dalam Islam memiliki kewajiban untuk menafkahi istri, anak dan sanak saudaranya, sedangkan wanita tidak memiliki tanggungjawab itu. Begitu juga laki-laki dalam Islam memiliki kewajiban memberi maskawin atau mahar kepada istri, sementara istri diberi hak untuk menentukan nominasi maharnya. Sehingga bagi Mahmud Syaltut, pembagian harta warisan yang diterima oleh laki-laki melebihi jatah wanita tidak bisa dikatakan sebagai pelanggaran hak asasi manusia._

Rasyid Rida dalam bukunya huqûq al-nisâ' fĩ al-Islâm memaparkan bahwa tanggungjawab dan kebutuhan laki-laki terhadap harta benda jauh lebih banyak dibanding wanita. Rasyid Rida juga memaparkan bahwa laki-laki memiliki kewajiban membayar mahar ketika akan menikah dengan wanita dan memiliki kewajiban untuk menafkahkan sebagian hartanya kepada fakir miskin sebagaimana Mahmud Syaltut menjelaskan di atas._ Ali Jum'ah menambahkan bahwa laki-laki juga memiliki tanggung jawab menafkahi istri walaupun si istri memiliki harta benda._

Sementara untuk menjawab rongrongan dari pemerhati Islam yang menganggap ajaran Islam telah menurunkan derajat wanita dalam perihal kesaksian, Mahmud Syaltut benjawab bahwa surat al-Baqarah ayat 282 tidak menerangkan tentang kesaksian wanita dalam peradilan akan tetapi isyarat yang mengarah pada ketenangan dan ketentraman hati bagi para amil yang mencatat dan menjadi saksi dalam pencatatan piutang. Muhammad Abduh memaparkan bahwa persoalan harta benda bukan urusan atau tugas utama bagi wanita sehingga daya ingat atau kepekaannya terhadap harta benda tergolong lemah. Sementara daya ingat laki-laki terhadap harta benda sangat kuat._

Ali Jum'ah menjelaskan bahwa kesaksian adalah tangungjawab yang besar dan berat, maka ketika Islam menganjurkan adanya dua saksi dari wanita, secara tidak langsung telah menjadikan wanita lebih terhormat karena tidak terbebani oleh tanggungjawab yang tinggi. Ada kesamaan dalam kesaksian antara wanita dan laki-laki, diantaranya; pertama, kesaksian seorang wanita dalam melihat bulan sabit pada bulan ramadhan sama dengan kesaksian seorang laki-laki. Kedua, kesaksian seorang wanita dianggap sama dalam peradilan (mulâ'inah). Ketiga, kesaksian seorang wanita dapat diterima dalam persoalan khusus bagi wanita seperti; kelahiran, penyusuan, kesaksian terhadap penyakit yang ada di balik baju seperti keperawanan, penyakit kusta dan sebagainya. Keempat, kesaksian seorang wanita yang hanya menyaksikan dengan kesendiriannya. Kelima, kesaksian seorang wanita yang didahului oleh kesaksian laki-laki setelah mendengar kabar dari dua saksi. Keenam, kesaksian yang berbeda dalam hal penetapan riwayat._

Kesaksian dalam Islam tidak mengarah kepada jumlah akan tetapi bagaimana seorang hakim bisa merasa percaya dan tenang dengan kesaksian seorang saksi baik itu wanita atau laki-laki dilihat dari kepribadian dan penampilannya. Hal itu diperkuat oleh pendapat Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Muhammad Abduh dan Mahmud Syaltut. Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa keterangan diperoleh dari penuntut, sementara sumpah dilakukan oleh terdakwah. Keterangan bisa diterima dari empat, tiga, dua atau satu saksi. Jika keterangan yang disampaikan penuntut memenuhi keriteria, maka terdakwa berhak dihukum. Imam Malik dan Ahmad berpendapat bahwa keterangan yang diberikan oleh seorang wanita yang berakal, istiqamah dalam menjalankan ajaran agamanya, dapat dijadikan bukti atau bisa dikabulkan._ Dari beberapa pendapat di atas, membuktikan bahwa kesaksian seorang wanita memiliki kedudukan yang sama dalam Islam. Adapun yang dimaksud surat al-Baqarah ayat 282 hanya sebatas pada persoalan piutang yang disebabkan karena daya ingat wanita yang terkesan lemah dalam mengingat perihal harta benda. Pada akhirnya, Islam menyamaratakan antara kesaksian seorang wanita dan kesaksian seorang laki-laki._
Epilog
Masa kolonialisme telah melahirkan para pembaharu Islam yang membawa pencerah-pencerah baru bagi perubahan dan pengembangan penerapan ajaran agama Islam. Al-Thatawiy dengan teori pendidikan dan ekonominya telah berhasil memberikan konstribusi progresif bagi perkembangan dan kemajuan Mesir pada jamanya. Begitu pula Muhammad Abduh dengan teori pendidikan dan pembelaanya terhadap kaum tertindas menjadikan ia sebagai sosok yang selalu dikenang. Qasim Amin dengan dua karya besarnya tahrĩr al-mar'ah dan al-mar'ah al-jadĩdah telah berhasil membongkar kejumutan yang menimpa umat Islam pada waktu itu.
Masa kolonialisme dalam bentuk peperangan telah semakin pudar, imprealisme selalu muncul dalam bentuk dan wajah baru. Kesiapan, kesigapan dan pertahanan umat Islam tentu sangat dibutuhkan. Dan untuk menjawab itu semua tidak ada jalan lain selain kembali memperlajari ajaran-ajaran keislaman yang tidak hanya berlandaskan pada al-Qur'an, hadis, pendapat ulama dahulu, akan tetapi juga berlandaskan pada kebutuhan dan tantangan masyarakat modern yang semakin lama semakin komplek. Islam sebagai sebuah ajaran telah sempurna dengan berakhirnya wahyu dari Allah kepada nabi-Nya Muhammad Saw, namun problematika umat dan jaman masih terus berkembang. Oleh karena itu mari kita kaji bersama! Walahu'alam.


Windows® phone