Akal Sehat Memilih dan Memutuskan Yang Semestinya

Cobalah kita bayangkan tengah mendapatkan tawaran bisnis yang sangat menguntungkan atau tawaran pindah kerja dengan gaji yang terlalu menggiurkan ataupun posisi yang tinggi yang rasanya sulit untuk ditolak.

Kita perlu menggunakan akal sehat untuk menghitung-hitung soal ekonomi, waktu, tenaga, dan lain-lain. Akal sehat menuntun kita pada keputusan terbaik demi kemakmuran yang akan kita peroleh. Namun, di saat yang sama, mungkin saja terselip sesuatu yang teramat halus yang menggelitik pertimbangan akal sehat. Yaitu: rasa bangga sekaligus kekhawatiran menghadapi pekerjaan baru. Atau, kekecewaan sekaligus keamanan pada apa yang ada sekarang. Maka, akal sehat pun terombang-ambing di gemuruh ombak pertimbangan tiada tentu.

Mampukah kita membebaskan batin dari rasa bangga, takut, kecewa dan ribuan rasa lain? Karena semakin lama ia menjerat, semakin lemah pertimbangan akal sehat tadi. Biarkan akal sehat memutuskan. Dan, biarkan batin tetap tenang menerima semua keputusan. Apa yang dilakukan si batin yang tenang inilah yang dimaksud dengan "memilih untuk tidak memilih". Menyerahkan segala sesuatunya pada keberserahan diri.

Windows® phone